Pembunuh Elpi Manik Terancam Hukuman Seumur Hidup

Pelaku saat akan membenam jasad korban ke dalam parit irigasi persawahan di Nagori Laras II Kecamatan Siantar.

Simalungun, Lintangnews.com | “Pelaku kita jerat dengan pasal 340 subs pasal 339 subs 338 lebih subs pasal 365, dengan ancaman hukuman seumur hidup,” kata Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP Ruzi Gusman.

Ini disampaikan usai menggelar rekonstruksi (rekon) pembunuhan terhadap guru SMP Cinta Rakyat 2, Elpi Manik (26) warga Nagori Laras II, Kecamatan Siantar, di Lapangan Aspol Simalungun, Jalan Asahan, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar, Jumat (18/1/2019).

Dengan dipimpin langsung AKP Ruzi, sebanyak 25 adegan diperagakan oleh pelaku inisial YS (26) dalam rekon yang disaksikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Simalungun, keluarga korban dan awak media.

Pelaksanaan rekon mendapatkan pengawalan ketat dari Satuan Shabara Polres Simalungun yang dipimpin Kasat Sabhara, AKP M Syafi’i.

Terungkapnya kasus pembunuhan itu diawali dengan penemuan jenazah korban pada Sabtu (22/12/2018) sekira pukul 15.30 WIB, di saluran irigasi persawahan dan kolam ikan di Dusun Lumban Buntu, Nagori Laras II, Kecamatan Siantar, oleh warga sekitar.

Sejak saat itu polisi pun berusaha melakukan pengungkapan kasus tersebut, hingga akhirnya pelaku yang masih tetangga korban, YS (26) pada Minggu (6/1/2019) diamankan di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan.

Gelar rekon diawali ketika Kamis (20/1/2019) sekira pukul 11.00 WIB, tersangka YS duduk di depan teras rumahnya sembari mengamati jendela rumah korban yang tidak bertirai. Diduga saat itu timbul niat pelaku untuk mencuri.

Selanjutnya, Jumat (21/1/2019) sekira pukul 03.00 WIB, pelaku mendekati rumah korban. Setelah berada di dekat jendela, pelaku mengintip bagian dalam rumah dan melihat handphone (HP) milik korban yang saat itu sedang tertidur.

Pelaku berusaha masuk ke dalam rumah melalui jendela yang ternyata saat itu tidak terkunci sempurna. Begitu berhasil masuk, pelaku langsung mengambil HP dan menyimpannya di dalam saku celananya.

Namun saat itu tiba-tiba korban Elpi Manik terbangun dari tidurnya langsung terduduk melihat pelaku. Korban langsung berteriak ‘maling…maling..’. Tak mau ketahuan aksinya oleh orang lain, pelaku langsung membungkam mulut korban dengan tangannya.

Korban yang dipaksa diam saat itu, tidak mau dan berusaha melakukan perlawanan dengan menggigigit tangan pelaku hingga berdarah. Mendapatkan perlawanan, pelaku kembali menarik tubuh korban dan menghempaskannya ke lantai. Dilanjutkan dengan mencekik leher korban, hingga tidak berdaya dan tak bergerak lagi.

Berikutnya, korban diseret ke dalam kamar, dan pelaku melepaskan 2 buah cincin dari jari-jari tangan Elpi dan menyimpannya kembali ke kantong celananya. Setelah barang-barang berharga diamankannya, pelaku berjalan menuju arah pintu dapur untuk membuka pintu.

Selanjutnya pelaku kembali ke kamar untuk membuang korban. Namun saat itu dilihatnya korban kembali bergerak dengan posisi telentang dan kembali berteriak, ‘tolong…tolong….’. Ini membuat pelaku kembali mencekik leher korban hingga tidak bergerak lagi.

Korban yang sudah tidak berdaya itu, dibopong pelaku keluar dari dalam rumah. Lalu meletakkannya di sebuah lubang yang berada di belakang rumah korban dengan posisi telungkup.

Kemudian meninggalkannya untuk melihat situasi di sekitar rumah korban yang ternyata memang dalam keadaan sepi. Melihat situasinya aman, pelaku kembali mendatangi korban. Disini, pelaku kembali mencekiknya hingga kembali tidak berdaya, karena korban ternyata masih hidup dan bergerak.

Kembali, pelaku membawa korban dengan memikulnya menuju saluran irigasi (TKP penemuan korban) yang berjarak kurang lebih 200 meter dari rumah Elpi.

Tak hanya diletakkan begitu saja, pelaku menimpa tubuh korban dengan pelepah kelapa sawit dengan tujuan agar tubuhnya tenggelam dan tidak terlihat. Setelah dirasa aman, pelaku meninggalkannya dan menuju rumah korban.

Sesampainya di rumah korban, pelaku membersihkan rumah dari darahnya sendiri dan membenahi kembali posisi kasur yang sempat tergeser sewaktu kejadian.

Selanjutnya, pelaku meninggalkan rumah korban dan sempat mematikan lampu dan televisi yang saat kejadin sedang menyala. Selain itu juga, pelaku membawa tas milik korban dan selimut yang berdarah melalui pintu belakang menuju saluran irigasi yang berjarak 800 meter. Ternyata tas itu hanya berisikan uang tunai Rp 135 ribu dan surat emas.

Kemudian pelaku membuang tas dan selimut yang ada bercak darah di lokasi tersebut. Dan saat perjalanan meninggalkan lokasi, pelaku bertemu dengan salah seorang warga OST dan sempat bertegur sapa. (zai)