Penambangan Batu Cadas Ilegal di Bosar Maligas Akibatkan Tanah Longsor

153
Lokasi penambangan batu padas di Huta II Nagori Marihat Butar, Kecamatan Hutabayu Raja yang disebut-sebut beroperasi tanpa izin.

Simalungun, Lintangnews.com | Penambangan batu cadas ilegal (liar) di Huta II Nagori Marihat Butar, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun dikhawatirkan mengakibatkan tanah longsor sepanjang tepian Sungai Bah Dahi.

Warga berinisial S, Jumat (8/11/2019) mengatakan, longsornya tanah di tepian Sungai Bah Dahi sepanjang jalan penghubung dari Huta II menuju Huta IV diduga diakibatkan adanya kegiatan penambangan tersebut.

“Penambangan secara ilegal itu sudah berlangsung lama. Meski sering diamankan petugas, pengusaha tetap melanjutkan penambangan secara liar hingga mengakibatkan longsornya tanah,” ucapnya.

Menurutnya, dari hasil interogasi pasca diamankan petugas beberapa tahun lalu, para pekerja mengakui telah melakukan aktivitas pertambangan di tepi Sungai Bah Dahi dan tidak ada memiliki ijin.

“Penambangan memang dilakukan dengan cara manual. Tidak menggunakan mesin, tapi pakai patuk, palu, cangkul dan linggis. Walaupun begitu, maksimal 20 truk per hari diangkut dari sana,” imbuhnya.

Pengusaha penambangan batu cadas ilegal itubbernama Condro Purba tidak mempekerjakan warga setempat. Melainkan merekrut pekerja dari luar wilayah Huta II Nagori Marihat Butar.

Diketahui apabila setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 158 Undang-Undang (UU) RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Padas, dapat diancam hukuman 10 tahun penjara atau dapat di denda sebesar Rp 10 miliar.

Terkait informasi ini, Condro Purba dari seberang telepon selulernya, Jumat (8/11/2019) sekira pukul 20.13 WIB tidak membantah penambangan batu cadas yang dikelolanya itu tidak memiliki izin.

“Gak ada. Masyarakat mana yang bilang lama. Baru seminggunya beroperasi. Ya longsor lah. Tapi di bawahnya kami menambang. Gak taulah. Itu bukan punya saya. Itu punya orang di situ,” ungkapnya.

Dikatakan, dirinya pada kegiatan penambangan batu padas ilegal hanya sebagai pekerja. “Kami cuma mengerjakan saja. Yang punya orang di situ, Muhammad Purba orangnya,” bilangnya.

Namun anehnya Condro coba mengertak. “Sekarang gimana maksud bapak kira-kira. Mana ada yang memiliki ijin. Di Simalungun ini kan bapak tau berapa banyak tangkahan. Semua tak ada ijinnya pertambangannya,” bebernya.

Dia mengungkapkan, tangkahan di Boluk Kecamatan Bosar Maligas, Sei Mangkei Kecamatan Bosar Maligas, di Kecamatan Hutabayu Raja dan Dosin Kecamatan Hutabayu Raja semuanya tak memiliki ijin.

“Jangan punyaku saja yang bapak konfirmasi. Di Boluk, Sei Mangkei, Hutabayu Raja dan Dosin semua tak ada izinnya,” ungkapnya dengan suara bergetar dan mulai jengkel, seraya mengulangi siapa narasumber pemberitaan itu. (Zai)