Pengerusakan Pagar Besi Kantor Pangulu, Anggota DPRD Simalungun Kecam Sikap Sekdes Buntu Bayu

Rapat pembahasan hilangnya pagar besi kantor Pangulu Buntu Bayu.

Simalungun, Lintangnews.com | Anggota DPRD Kabupaten Simalungun, Bonauli Rajagukguk kecewa dengan Pemerintah Nagori (Pemnag) Buntu Bayu dan Pemerintah Kecamatan (Pemkec) Hatonduhan karena sangat lamban menyelesaikan permasalahan hilangnya pagar besi sebelah barat kantor Pangulu setempat.

Kekecawaan itu diungkapkannya di hadapan Camat Hatonduhan, Zocshon Silalahi dan Ketua Maujana Nagori Buntu Bayu, Tumpak Rajagukguk bersama Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Eduard Simanungkalit dalam rapat pembahasan hilangnya pagar besi kantor Pangulu Buntu Bayu, Senin (23/8/2021) di Ruang Harungguan kantor Camat Hatonduhan.

Menurut Bonauli, diduga ada konspirasi dalam kasus ini. Dia mengatakan, beberapa alasan yakni, Tunggul Tampubolon merupakan Sekretaris Desa (Sekdes) Nagori dan Pelaksana Harian (Plh) Pangulu Buntu Bayu enggan membuat pelaporan pada pihak yang berwajib, meskipun sudah jelas ada aset pemerintah yang dirusak dan dijual.

Padahal sebelumnya, Tunggul merasa keberatan dengan kejadian itu. Namun tanpa alasan yang jelas tiba-tiba berubah, bahkan Sekdes membuat pernyataan di atas selembar kertas.

Menurut Bonauli itu telah melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

“Sekdes dan Camat sepertinya menganggap permasalahan ini kecil. Padahal sebenarnya pelaku pencurian pagar besi telah menginjak-injak harga diri Pemkab Simalungun, apalagi Pangulu  Buntu Bayu baru saja meninggal dunia,” tukasnya.

Ketua Fraksi Gerindra ini juga mengaku mendapat informasi terbaru, jika terduga pelaku mencoba memperbaiki pagar besi. Namun lokasinya bergeser sekitar 1 meter dari tempat seharusnya. Meskipun begitu, Pemnag dan Pemnag hanya diam saja, serta pura pura tidak tau.

“Di awal kejadian saya sudah hubungi Camat dan mengaku sudah memerintahkan Sekdes untuk membuat laporan ke Kepolisian. Namun kenyataannya hingga hari ini masih tidak ada keputusan penyelesaiannya. Jika Camat enggan membuat pengaduan, maka DPRD Simalungun akan membuat rekomendasi demi marwah Pemnag Buntu Bayu dan Pemkab Simalungun,” ungkapnya mengakhiri.

Sementara  itu, Tumpak Ràjagukguk menyampaikan telah menyurati Bupati, Ketua DPRD Simalungun, Kepala Dinas Dinas Pemberdayaan Maujana dan Pemerintah Nagori (PMPN) dan Camat  Hatonduhan untuk meminta petunjuk.

“Selanjutnya jika tidak ada arahan, maka kami akan membuat pengaduan atas nama masyarakat,” sebutnya.

Sebelumnya informasi dihimpun berdasarkan keterangan warga, telah terjadi pengerusakan pagar besi kantor Pangulu Buntu Bayu dengan cara mencabut kepingan-kepingan besi yang  tertancap di tanah.

Lalu kepingan pagar besi dijual ke tukang botot atau barang bekas yang kebetulan melintas. Hal itu dilakukan beberapa oknum warga sekitar dan disaksikan Kepala Pos Polisi (Pospol) Hatonduhan Polsekta Tanah Jawa.

Mendapat informasi itu, Jumat (13/8/2021) wartawan mencoba mengkonfirmasi Tunggul Tampubolon selaku Sekdes Nagori Buntu Bayu. Awalnya dia merasa heran karena pagar besi  sebelah kiri di kantor Pangulu tiba-tiba tidak berada di tempat.

Karena penasaran, Tunggul bertanya pada Kepala Urusan (Kaur) Keuangan yang menyatakan, jika Kamis (12/8/2021) sore melihat terduga pelaku inisial JM dan PS bersama Kapos Hatonduhan di lokasi kejadian.

Tunggul pun mencoba menghubungi Kapospol Hatonduhan, Aiptu RB Silitonga melalui telepon seluler. Kapospol menjelaskan, sebelumnya ada truk pengangkut semen menabrak pagar sehingga jebol.

Karena penasaran, Tunggul melihat lokasi pagar. Namun dia tidak melihat tanda-tanda bekas tabrakan yang dijelaskan Kapospol.

Selanjutnya Tunggul mempertanyakan hal itu kepada JM. Lalu JM menjelaskan, sebelumnya pagar ditabrak truk pengangkut balok. Ini hal aneh bagi Tunggul dengan keterangan Kapospol dan JM berbeda pendapat terkait pagar kantor Pangulu itu.

Namun JM mengatakan, akan memperbaiki pagar iti menembok dengan semen dan menata tempat berjualan di samping kantor Pangulu.

Sekdes mempertanyakan anggarannya dari mana, hanya saja JM menyatakan, itu akan menjadi tanggung jawabnya. Karena melihat kepingan besi diletakkan di sekitaran kantor Pangulu, Tunggul pun berpesan pada JM apabila ada niat menjual untuk menambah biaya perbaikan pagar agar ditahan dulu, menunggu petunjuk dari Camat Hatonduhan. Ini mengingat besi itu merupakan barang milik Desa.

Namun berselang beberapa jam, tiba-tiba Tunggul mendapat telepon dari berbagi media dan mempertanyakan terkait penjualan kepingan besi itu.

Merasa bingung, dirinya langsung mempertanyan kebenaran informasi kepada Gamot (Kepala Dusun). Diketahui benar kepingan besi telah dijual namun batangan rel masih di lokasi kantor. Ini membuat Sekdes menyarankan agar Gamot segera menyimpan besi yang sisa di dalam kantor Pangulu.

Tenyata Tunggul telah membuat pernyataan hitam di atas putih tidak akan membuat laporan terhadap pelaku perusakan pagar besi kepada Aparat Penegak Hukum (APH) karena sudah ada itikad  baik.

“Hal itu bertentangan dengan kewajiban dan larangan PNS yang tertuang dalam PP Nomor 53  Tahun 2010. Hukumnya bisa dipindahkan atau dimutasi,” sebut Camat Hatonduhan, Zocson Silalahi dalam rapat. (Zai)