Simalungun, Lintangnews.com | PT Global Karai 7 merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Parapat Huluan, Nagori Simanabun, Kecamatan Silou Kahean, Kabupaten Simalungun yang terkesan tertutup dalam penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Humas PT Global Karai 7, Abdi Purba melalui telepon selulernya mengatakan, tahun 2018 pihak perusahaan telah memberikan dana CSR kepada pihak Pemerintah Nagori Simanabun dan Dolok Saribu Bangun.
Ini berupa pembangunan kamar mandi dan memasukan listrik ke Wisma Nagori Simanabun dan renovasi pembangunan jembatan Sungai Karei, Nagori Dolok Saribu Bangun.
“Untuk detailnya silahkan datang ke kantor ketemu dengan pak Rifai bang,” sebut Abdi.
Rifai selaku Manager operasional PT Global Karai 7, melalui pesan WhatsApp (WA) mengaku, belum bisa memberikan banyak keterangan.
“Untk csr saya belum bisa kasi data ke bapak, Karena pangulunya belum kirimkan ke saya pemanfaatan csr yang ter baru, Data yang ada sama saya masih data lama, Renovasi jembatan dolok saribu bagun dan lampu jalan simanabun, Untuk detail nya bapak bisa kordinasi ke sekdes masing2 desa Sesuai kesepakatan waktu pertemuan di balai desa kemaren, Pengelolaan csr di kelola oleh perangkat desa, dan masyarakat bisa akses penggunaan dana tersebut di kantor kepala desa,” tulis Rifai melalui pesan WA.
Rifai juga menambahkan, pemberian dana CSR sebesar Rp10 juta per bulan untuk kedua Desa itu masing-masing Rp 5 juta, dengan akumulasi Rp 120 juta per tahun.
Pangulu Simanabun, Jon Sangapman Sinaga dan Pangulu Dolok Saribu Bangun, Jonneri Saragih ketika dikonfirmasi melalui pesan WA, tidak memberikan jawaban.
Sementara itu Sekretaris Nagori Simanabun, Haristian Saragih, hanya menjawab ‘ok lae’, ketika dikonfirmasi terkait yang disebutkan Rifai.
Joksen Sipayung selaku Tokoh Masyarakat Dolok Saribu Bangun, angkat bicara terkait masalah itu. Dia menuturkan, sesuai pemantauan warga di lapangan, jika penyaluran dana CSR itu tidak jelas.
“Karena kita lihat penggantian lantai jembatan sungai bah karei nagori dolok saribu bangun yang menurut hemat kami hanya berbiaya lebih kurang 35 jt tp mereka bilang 60 jt. Maka kami melihat hal tersebut seolah olah masyarakat buta tentang perilaku mereka,” tulis Jekson via WA.
Ironisnya lagi, besi plat yang tebal di jembatan itu setelah diganti lantainya, justru dibawa Humas PT Global Karai 7dan dijualnya sendiri.
Joksen juga menuturkan, bantuan-bantuan dari PT Global Karai 7 terkesan ada perbedaan antara Nagori Simanabun dan Nagori Dolok Saribu Bangun. Menurutnya, lokasi PT Global Karai 7 sebanyak 90 persen terletak di Dusun Partimalayu Nagori Dolok Saribu Bangun.
Dia menuturkan, untuk Nagori Simanabun sudah banyak bantuan yang diberikan pihak perusahaan. Seperti rehab SD untuk tempat pesta, pembangunan rabbat beton di Parapat Huluan dan Masjid di Simanabun. Sementara untuk Nagori Dolok Saribu hanya pembangunan lantai Jembatan Bah Karei dan terkesan di mark up.
“Demikian pula tentang tenaga kerja di pt global, kami dari nagori dolok saribu bangun hanya 2 org warga yg bekerja disana, selebihnya mereka lah yg tahu, makanya kami sangat kesal atas tindakan dari menejemen PT Global, karena kami kering di bawah sampuran (air terjun). Jadi kami malu sebagai warga yang bodoh. Jadi bagi kami gak ada artinya PT global berdiri di kampung kami sendiri,” tulis Joksen.
Dirinya juga berjanji akan melakukan aksi unjuk rasa bersama warga setempat ketika aspirasi mereka tidak diperhatikan pihak PT Global Karai 7.
Hal senada juga disampaikan Ilham Saragih selaku Tokoh Masyarakat Simanabun. Ilham menilai, seharusnya PT Global Karai 7 dan pemerintah setempat trasparan dalam hal perealisasian dana CSR.
“Sebab CSR adalah tanggung jawab perusahaan bagi daerah setempat sebagai bukti kepedulian terhadap lingkungan yang gunanya untuk kepentingan masyarakat umum, bukan pribadi,” sebutnya, Jumat (18/10/2019). (RP)


