Polres Labuhanbatu Ringkus Sindikat Penjualan Kulit Harimau Sumatera  

Kapolres Labuhanbatu, AKBP Deni Kurniawan memaparkan kasus penjualan kulit Harimau Sumatera.

Labuhanbatu, Lintangnews.com | Polres Labuhanbatu di bawah kepemimpinan Kapolres AKBP Deni Kurniawan didampingi Kasat Reskrim AKP Parikhesit menggelar konferensi pers terkait sindikat kasus perniagaan kulit dan tulang belulang Harimau Sumatera, Rabu (16/12/2020).

AKBP Deni menuturkan, harga kulit harimau di pasar gelap internasional seharga USD 25.000 hingga USD 35.000 atau dalam rupiah mencapai Rp 500 juta. Sementara harga tulang belulang Harimau antara USD 1.000 sampai dengan USD 2.000 atau sekitar Rp 30 juta.

Dalam pengungkapan kasus ini, Sat Reskrim Polres Labuhanbatu bekerja sama dengan Time Sumatera, yaitu salah satu NGO di bidang lingkungan hidup.

“Dua tersangka inisial OS alias Pak Diana (43) warga Sibara-bara Dusun X Siamporik, Kelurahan Siamporik, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhabatu Utara (Labura) dan RG (49) warga Aek Matio Kelurahan Sirandorung Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Yang kita tetapkan sebagai tersangka ada 3 orang, 1 orang lagi inisial JS (35) warga Sibara-bara Dusun X Siamporik Labura saat ini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO),” ujar Kapolres.

Barang bukti yang diamankan petugas.

Penangkapan ini, lanjut Kapolres, berawal adanya informasi dari masyarakat pada Kamis (10/12/2020), akan ada transaksi jual beli kulit dan tulang beluang Harimau Sumatera.

Mendapat informasi itu, selanjutnya melakukan penggeledahan di salah satu rumah kontrakan. Petugas menemukan l buah karton warna cokelat berisikan 2 lembar kulit Harimau Sumatera dan 3 karung goni berisi tulang beluang Harimau Sumatera dimasukkan dalam kotak karton dibalut lakban warna cokelat.

Tersangka dipersangkakan melakukan tindak pidana menyimpan atau memiliki kulit, atau bagian tubuh lain satwa yang dilindungi. Ini sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (2) huruf d yang diancam pidana sesuai dengan pasal 40 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konsevasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak sebesar Rp 100 juta,” jelas AKBP Deni. (Sofyan)