Sambut Hari Raya Idul Fitri, Warga Asahan ‘Malomang’

Proses pembuatan lemang yang dilakukan warga Desa Padang Sari, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan.

Asahan, Lintangnews.com | Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata. Biasanya, warga memasak menu spesial untuk disantap bersama keluarga di hari nan spesial itu.

Begitu juga yang dilakukan warga di Kabupaten Asahan. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, warga beramai-ramai ‘Malomang’ alias membuat lemang. Suasana ‘Malomang’ itu dapat dilihat di Desa Padang Sari, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, Selasa (4/6/2019) malam.

Proses ‘Malomang’ itu tergolong unik. Warga bahu membahu memasak lemang yang dipanaskan di atas api yang besar. Saat proses pembuatan, warga membagi tugasnya. Sebagian ada yang bertugas mengambil kayu bakar dan menjaga lemang yang sedang dimasak.

Lemang makanan yang dibuat dari bahan dasar beras ketan itu dimasak dalam wadah bambu. Selain karena kelezatannya, lemang menjadi spesial karena kentalnya rasa kebersamaan pada proses pembuatan.

Bagi masyarakat Asahan, ‘Malomang’ sudah seperti kewajiban. Menurut warga, nilai lebaran akan berkurang tanpa ada acara  ‘Malomang’.

“Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun di Desa Padang Sari. Jadi setiap menyambut Lebaran Idul Fitri ataupun Idul Adha , kami selalu membuat lemang,” ujar salah seorang warga, Anto (58).

Menurutnya, warga dapat bersama-sama membuat lemang. Apabila ada warga yang tidak sanggup membuat lemang sendiri, bisa juga menumpang masak dengan warga lainnya yang ada di daerah itu. ”Syaratnya, setelah lemang itu masak dibagi bersama-sama kepada warga,” ujarnya.

Tradisi ‘Malomang’ juga dilakukan saat saat acara syukuran seperti kenduri. Artinya, ‘Malomang’ merupakan ungkapan kegembiraan masyarakat pada hari-hari tertentu, sehingga lemang yang dibuat dimakan secara bersama-sama.

“Bukan hanya memasaknya saja yang bergotong royong, tapi makannya juga bersama-sama,” ujarnya.

Warga lainnya, Sangkot Harahap (54), kebagian tugas menjaga lemang yang dipanaskan di api. Pasalnya, dia sudah tidak sanggup mencari dan mengangkat kayu bakar.

Biasanya, para orang tua memang lebih dipercaya menentukan rasa setiap lemang yang dibakar. “Namanya saya sudah tua, makanya disuruh jaga lemang saja,” ujar Sangkot. (handoko)