Sarang Burung Walet Sumut Capai Triliunan Rupiah dan Primadona Ekspor 2022

Ekspor Sarang Burung Walet dari Indonesia.

Deli Serdang, Lintangnews.com | Peranan perdagangan internasional dalam perekonomian nasional semakin penting, salah satunya dari komoditas ekspor sub sektor pertanian yang menjadi komoditas unggulan Indonesia seperti Sarang Burung Wallet (SBW).

Indonesia merupakan salah satu penghasil dan pengekspor SBW terbesar di dunia.

Tingginya kinerja ekspor berdampak positif bagi perekonomian suatu negara. SBW merupakan komoditas asal subsektor peternakan yang menjadi prioritas baru dalam target ekspor Indonesia.

Pada tahun 2011 sampai tahun  2020, SBW masih menempati posisi nilai ekspor tertinggi dalam komoditas ekspor peternakan. Indonesia menempati angka 540,7 juta US$ atau sekitar 55 persen dari total nilai ekspor dunia.

Adanya tren peningkatan ekspor SBW, serta masih tingginya potensi pasar yang ditunjukkan oleh peningkatan konsumsi, mengharuskan Indonesia sebagai salah satu produsen utama.

Untuk meraih peluang pasar itu, Badan Karantina Pertanian melalui Karantina Pertanian Medan rutin melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui keunggulan komparatif dan posisi daya saing ekspor SBW Indonesia di negara tujuan utama.

“Dengan metode penelitian adalah Revealed Comparative Advantage yang tujuannya untuk menganalisis keunggulan komparatif dan Export Product Dynamics, serta menganalisis posisi daya saing,” ujar Lenny Hartati Harahap selaku Kepala Karantina Pertanian Medan, Sabtu (17/12/2022) di ruang kerjanya.

Menurutnya, hasil analisis menunjukkan SBW Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan berdaya saing tinggi di 5 negara tujuan utama seperti Hongkong, Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam dan Singapura, serta lebih unggul dibandingkan negara pesaing utamanya yaitu Malaysia.

Secara keseluruhan perbandingan kinerja ekspor di tahun 2022 mengalami peningkatan 21.65 persen dibandingkan tahun 2021. Hal ini dilihat  dari semakin pulihnya perekonomian dunia dari wabah pandemi Covid-19, sehingga permintaan pasar dari negara tujuan semakin meningkat.

“Dilihat dari aplikasi IQFAST Badan Karantina Pertanian, data operasional ekspor khususnya SBW melalui Karantina Pertanian Medan di periode Januari sampai Oktober tahun 2021 dengan frekuensi 1.293 kali dan nilai ekonomi mencapai Rp 4,386 triliun,” kata Lenny.

Sedangkan untuk periode Januari sampai September 2022 dengan frekuensi 1.573 kali dan nilai ekonominya mencapai Rp 6,026 triliun, tujuan China, Australia, Prancis, Hongkong, Vietnam, Amerika Serikat, Singapura dan Taiwan.

Sedangkan khusus untuk China sendiri kegiatan ekspor SBW juga terjadi peningkatan di tahun 2022 sampai dengan September yaitu meningkatnya volume sebanyak 27.407,20 Kg dengan 3,71 persen dibandingkan tahun 2021 dan volume 26.426,21 Kg.

“Untuk frekuensi pada tahun 2022 berjumlah 147 dan tahun 2021 sebanyak 177 kali, hal ini terjadi penurunan. Tetapi untuk nilai ekspor komoditas pada tahuan 2022 terjadi peningkatan 3.71 persen, dengan nilai ekonominya mencapai Rp 548 miliar. Sedangkan pada tahun 2021 hanya mencapai Rp 528 miliar,” papar Lenny.

Meningkatnya ekspor SBW ke negara tujuan berbanding lurus dengan meningkat pula jumlah produksi, serta permintaannya.

Dikatakan Lenny, peran kinerja Karantina Pertanian Medan terus meningkat. Pihaknya juga rutin memberi dukungan seperti bimbingan Desa Binaan Gratieks, kemudian Klinik Ekspor dan monitoring.

“Semoga tahun 2023 capaian ekspor komoditas pertanian khususnya SBW dari Sumatera Utara terus meningkat,” imbuhnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang, mengungkapkan, SBW merupakan salah satu komoditas ekspor yang mempunyai nilai jual tinggi.

“Selain itu juga menjadi salah satu komoditas ekspor strategis nasional yang mengalami peningkatan permintaan setiap tahunnya dari berbagai negara tujuan ekspor,” sebutnya mengakhiri.(Idris)