Seminar Nasional PR TB ‘Aisyiyah, Peran Masyarakat Dibutuhkan untuk Penanggulangan TBC

Seminar nasional yang dilaksanakan PR TB ‘Aisyiyah.

Jakarta, Lintangnews.com | PR TB ‘Aisyiyah menggelar seminar virtual melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube PR TB Aisyiyah, Kamis (8/10/2020) sekira pukul 09.00-12.30 WIB.

Acara yang bertajuk ‘Peran Masyarakat Sipil dalam Sektor Kesehatan untuk Penanggulangan TBC’ itu diselenggarakan sebagai salah satu upaya ‘Aisyiyah untuk bersama-sama menguatkan peran masyarakat sipil dalam penanggulangan TBC di Indonesia.

Seminar diawali pengantar dari Authorized Signatory PR TB ‘Aisyiyah dan Dewan Pembina PR TB ‘Aisyiyah, serta dibuka langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini.

Kegiatan itu dihadiri 478 orang peserta terdiri dari perwakilan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, 12 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, perwakilan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, PELKESI, PERDHAKI, para pengelola program SR dan SSR TBC Care ‘Aisyiyah, Manager Kasus (pendamping pasien TBC Resisten Obat), organisasi masyarakat sipil, peneliti, pegiat sosial dan pegiat penanggulangan TBC.

Penanggulangan TBC sebagai bentuk pembangunan di bidang kesehatan mengutamakan pendekatan partisipatoris, dengan melibatkan berbagai pihak masyarakat secara langsung.

Karena itu, kolaborasi dan kerja sama dalam pembangunan kesehatan, khususnya penanggulangan TBC menjadi syarat mutlak untuk dapat mencapai target eliminasi TBC.

‘Aisyiyah dalam hal ini telah turut berperan dalam upaya penanggulangan TBC dan akan tetap menjadi bagian dari komunitas yang akan terus konsisten melakukan eliminasi TBC.

Rohimi Zamzami, Psikologi selaku Authorized Signatory PR TB ‘Aisyiyah menyampaikan, ‘Aisyiyah telah 17 tahun berkontribusi dan mengambil peran dalam penanggulangan TBC sejak tahun 2003 hingga 2020 melalui bermitra dengan Global Fund.

“Pada akhir periode ini, diharapkan seluruh elemen dapat menuntaskan program secara maksimal dan siap untuk menyambut kerja-kerja komunitas yang optimis dan berkelanjutan,” paparnya.

Sementara Siti Aisyah menyampaikan, meskipun ‘Aisyiyah tidak kembali bermitra dengan Global Fund, tidak akan pernah berhenti dalam upaya penanggulangan TBC di komunitas yang ujung tombaknya selama ini adalah kader.

“Karena itu, untuk menyongsong suasana baru, serta menguatkan semangat dan tekad baru, PR TB ‘Aisyiyah dan Majelis Kesehatan dalam hal ini berproses untuk rencana, program hingga penyusunan langkah strategis,” paparnya.

Siti Noordjannah menyampaikan, tema dari seminar virtual ini sudah sangat melekat dalam kehidupan ‘Aisyiyah dalam melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, salah satunya melalui penanggulangan TBC.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel dimoderatori Program Manager PR TB ‘Aisyiyah, Tuti Alawiyah. Diskusi panel diawali dengan materi tantangan dan strategi terkait keberlanjutan program penanggulangan TBC berbasis komunitas secara mandiri disampaikan Noor Rochmah Pratiknya.

Wakil Ketua Majelis Kesehatan PPA ini menuturkan, ‘Aisyiyah adalah organisasi keagamaan, kemasyarakatan dan kesehatan yang sudah bergerak 1 abad lebih. Dalam hal ini,

‘Aisyiyah mendapatkan amanah dari Global Fund untuk mengelola program TBC sepanjang 17 tahun, dengan proses pembelajaran dan praktek baik di berbagai wilayah di Indonesia.

Noor menuturkan, dengan berakhirnya kemitraan bersama Global Fund, ‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan akan terus bergerak mengeliminasi TBC yang terintegrasi melalui Gerakan ‘Aisyiyah Sehat (GRASS).

Hal itu sejalan dengan semangat perjuangan organisasi untuk meningkatkan derajat kesehatan berbasis pelayanan kesehatan dan komunitas sebagaimana tercantum pada Surat Al-Maun.

Selain itu, pada Surat Al-Maidah ayat 32 yang mendasari ‘Aisyiyah untuk terus bergerak dan melanjutkan upaya eliminasi TBC, yakni ‘barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang maka dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya’.

“Kegiatan di Majelis Kesehatan untuk penyakit menular dari Pimpinan Pusat sampai level daerah sudah ada, termasuk penyakit menular di antaranya TBC dan akan bersinergi dengan Lazismu, ZIS, sponsorship dan lintas majelis perguruan Tinggi Aisyiyah dan Muhammadiyah serta amal usaha lainnya,” papar Noor.

Terkait penanggulangan TBC berkelanjutan, PR TB ‘Aisyiyah menghadirkan Hilman Latief sebagai Ketua LAZISMU Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menyampaikan paparan bertajuk ‘Potensi kerja sama dengan LAZISMU dalam kerangka penanggulangan TBC’.

Dirinya menyampaikan apresiasi untuk ‘Aisyiyah sebuah achievment yang luar biasa untuk kerja-kerja ‘Aisyiyah di 20-30 tahun terakhir bergelut terlibat aktif dalam penanggulangam TBC secara khususnya. Dan jauh sebelum itu ‘Aisyiyah juga telah mempunyai kontribusi besar dalam bidang kesehatan secara umum.

Selain melalui sumber dana filantropi, masyarakat sipil juga dapat mengakses sumber dana melalui kerja sama dengan pemerintah.

Hal ini disampaikan pembicara ketiga yakni, Horas Mauritz Panjaitan selaku Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dia menyampaikan informasi terkait akses swakelola tipe III dari APBD/APBN.

Horas mengapresiasi kerja-kerja ‘Aisyiyah dalam penanggulangan TBC dan menyampaikan ketertarikan serta antusiasme untuk dapat bekerjasama lebih lanjut dalam mendukung upaya ‘Aisyiyah.

“Saya minta materinya ibu Noor ya, sebagai bahan untuk akan ditindaklanjuti dalam setiap ada rapat membahas anggaran,” paparnya.

Berdasarkan paparan yang disampaikan Noor, Horas baru mengetahui adanya kasus TBC yang tinggi ditemukan ‘Aisyiyah.

“Ada 10 persen alokasi APBD untuk kesehatan, mengapa tidak bisa disediakan untuk TBC. Apalagi TBC termasuk dalam SPM, ajukan saja segera untuk 2021 kalau sudah sesuai dan anggarannya ada maka bisa diakses,” sebut Horas.

Keberlanjutan program penanggulangan TBC oleh ‘Aisyiyah, Horas menyampaikan, Kemendagri siap mensupport dan menjembatani untuk ke daerah dalam musrenbang di desa di sesuaikan dengan kebijakan Desa masing-masing.

Dalam paparannya, Horas juga menyampaikan tentang alur bagaimana organisasi masyarakat sipil dalam mengakses dana APBD di setiap Kabupaten/Kota melalui swakelola tipe III.

Hal ini menjadi peluang yang terbuka untuk setiap Pimpinan Wilayah/Daerah ‘Aisyiyah dalam menjalankan peran dan fungsinya pada upaya penanggulangan TBC.

Sesi diskusi ditutup oleh Tuti Alawiyah dan menyampaikan, ini menjadi pencerahan awal yang perlu untuk ditindaklanjuti.

“Secara khusus, ‘Aisyiyah dapat melihat potensi kerja sama melalui Lembaga filantropi termasuk LAZISMU dan bagi masyarakat sipil secara umum dapat mengakses potensi dari pendanaan pemerintah melalui swakelola tipe III,” sebutnya mengakhiri. (Rel)