Sidang Lanjutan Gugatan Advokat, Lurah Sukaraja Layangkan Teguran pada Pdt Dobes Manullang

Ilustrasi.

Siantar, Lintangnews.com | Sidang lanjutan gugatan Advokat Daulat Sihombing terhadap Pdt Dobes Manullang, isterinya Berliana Napitupulu dan anaknya Adven Manullang mengungkap fakta baru.

Ternyata sebelum digugat ke Pengadilan Negeri (PN) Kota Siantar, Lurah Sukaraja, Kecamatan Siantar Marihat, Sabar Hutabarat ternyata telah melayangkan surat teguran kepada Pdt Dobes.

Ini karena secara sepihak telah menguasai areal berem jalan Gang Platinum, tepatnya di samping rumah, yang seharusnya menjadi parit atau selokan umum. Namun justru dibendung dengan tanah, batu- batuan dan tanam- tanaman oleh Pdt Dobes dan keluarganya.

Karena itu melalui suratnya tertanggal 15 Oktober 2020, Lurah Sukaraja meminta agar Pdt Dobes Manullang mencabut, memindahkan dan menumbangkan segala tanam-tanaman di sepanjang berem jalan samping rumahnya. Termasuk membongkar tanah dan batu-batuan yang sengaja dibuat oleh Pdt Dobes untuk memblokir fungsi parit atau selokan di areal sebagaimana dimaksud.

Fakta ini menurut Edi Sudma Sihombing dan Rudi Malau selaku Kuasa Hukum Daulat Sihombing melengkapi bukti lainnya, jika sengketa antara klien mereka dengan para tergugat telah berlangsung setidaknya sejak bulan Oktober 2020 lalu hingga tanggal 18 Februari 2021, Lurah Sukaraja bersama Bhabinkamtibmas dan Ketua RW menggelar pertemuan mediasi.

Namun itu gagal, karena Adven Manullang sekaligus mewakili orang tuanya ngotot tidak mau membuka atau membongkar tanah, batu-batuan dan tanam-tanaman yang dibuat untuk membendung parit/bak kontrol pembuangan limbah air rumah tangga dari penggugat.

Penggugat Ajukan Empat Saksi

Sepanjang sidang lanjutan perkara dengan acara pemeriksaan saksi, tanggal 27 Juli 2021, 3 Agustus 2021 dan 24 Agustus 2021, kuasa penggugat telah mengajukan 4 orang saksi masing-masing, Subetti, Anwar Saragih, Anugrah dan Indra.

Subetti dan Awal Saragih menerangkan, tanggal 12 Februari 2021 saksi menyaksikan rumah penggugat mengalami banjir karena bak kontrol atau selokan sementara yang terletak di seberang jalan dibendung dengan tanah, batu-batuan dan tanam-tanaman oleh Pdt Dobes dan keluarganya.

Saksi juga menerangkan, Pdt Dobes telah meninggikan tembok pagar dan membuat kanopi belakang rumah dengan menempel ke tembok dinding rumah belakang penggugat. Ini menutupi penerangan, lubang angin dan membuat resiko pengeroposan terhadap tembok rumah penggugat.

Tak hanya itu, tanggal 13 Februari 2021 sekira pukul 10.00 WIB di Gang Platium, kedua saksi juga mengaku melihat dan mendengar Advent Manullang menghina penggugat dengan kata- kata ‘Siborjong kau, tak tau adat kau, tak level kau,” sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah penggugat.

Sedangkan saksi Anugrah dan Indra, menerangkan, ada tanggal 18 Februari 2021 hadir dalam pertemuan mediasi di kantor Lurah Sukaraja. Menurut saksi, Daulat telah mengeluhkan tindakan Pdt Dobes dan keluarganya, sehingga menimbulkan banjir ke rumah penggugat.

Para saksi menerangkan, jika Daulat mengeluhkan dirinya telah dihina Advent Manullang. Namun menurut saksi, jika Adven berdalih kata-kata itu bukan untuk penggugat, melainkan pada temannya.

Pepesan Kosong

Pada sidang Selasa, (24/8/2021) yang dipimpin Hakim Majelis masing-masing, Fhytta Imelda Sipayung sebaga Ketua, Nasfi Firdaus dan Katharina Melati Siagian sekalu anggota, 3 orang Kuasa Hukum Pdt Dobes sepertinya hendak pamer ‘kehebatan’ sebagai Advokat untuk membela kliennya.

Dengan gaya over acting, Maria Purba meminta Ketua Mejelis agar diberikan kesempatan untuk memutar rekaman audio (bukti T-8) melalui laptop miliknya untuk membantah keterangan saksi Indra, jika pertemuan mediasi di Kelurahan Sukaraja pada tanggal 18 Februari 2021 gagal tanpa kesimpulan.

Maria mulai memutar audio, namun rekamannya justru semakin mendukung pembuktian penggugat tentang Adven yang mengaku mengatakan ‘Siborjong kau, tak tau adat kau, tak level kau’ namun bukan untuk Daulat melainkan pada temannya.

Ini juga memperkuat pembuktian penggugat tentang pertemuan mediasi yang gagal tanpa kesimpulan. Karena pernyataan akhir dari pertemuan mediasi itu adalah ‘sepakat untuk tidak sepakat’

“Jadi apa yang hendak dibuktikan oleh tim kuasa hukum, ternyata hanya pepesan kosong yang sangat merugikan kliennya,” ujar Edi Sudma sambil tertawa. (Rel)