Supir Pribadi Kabid SMP Disdik Simalungun Gagalkan Cetak Album Raport di Percetakan Siantar

183
Supir pribadi Toran Tambunan dan majikannya, Kabid SMP Disdik Simalungun, Orendina Lingga.

Simalungun, Lintangnews.com | Sejak advertising (percetakan) di Jalan Jeruk, Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat, Kota Siantar menjadi tempat cateringkan atau borongkan SPj (Surat Pertanggung jawaban) terkuak ke permukaan sepertinya menimbulkan dampaknya.

Toran Tambunan yang merupakan supir pribadi dari Kabid SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Pemkab Simalungun, Orendina Lingga belum ada mengorder album raport yang rencananya dipasok ke SMP se Kabupaten Simalungun.

“Gak ada dicetak (order) album raport,” ungkap salah seorang sumber melalui sambungan telepon seluler, Minggu (10/11/2019).

Sejauh ini, yang diorder di advertising Jalan Jeruk itu masih gambar Presiden-Wakil Presiden RI untuk dipasok ke 62 SMP se Kabupaten Simalungun.

“Gambar Presiden dan Wakil Presiden ada. Yang pesan keponakan Bupati,” ungkap sumber tersebut saat ditemui, Jumat (8/11/2019) sekira pukul 14.49 WIB.

Keponakan Bupati yang dimaksud memesan gambar Presiden dan Wakil Presiden itu disebut bermarga Sembiring.

“Dia marga Sembiring. Rumahnya di sana. Orangnya mudah-muda (usia),” sebutnya.

Jumlah gambar Presiden dan Wakil Presiden yang dipesan sebanyak 500 pasang. “Sedikit cuma 500 pasang. Untuk SD dan SMP. Sudah didistribusikan sekitar 200 pasang. Itu pun Kadis minta bagi fee,” jelasnya.

Selain itu, ketika memasuki ajaran baru, Disdik Simalungun juga mengorder kalender pendidikan di advertising Jalan Jeruk.

“Setengah tahun ini hanya kalender pendidikan waktu ajaran baru dan spanduk diorder,” ujarnya.

Sebelum mengorder, pemasok terlebih dahulu mendapatkan koordisi duluan dari Disdik Simalungun. “Cuma kan harus mendapatkan koordinasi duluan dari Disdik,” bebernya.

Dalam mempasok ke SD dan SMP harus menggunakan sebuah perusahaan yang mempunyai NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). “Memang harus pakai perusahaan. Kalau gak pakai perusahaan kayak mana,” katanya.

Mengenai bagi-bagi, mulai dari ujung timur sampai ujung barat memang seperti itu lah permainannya. “Kalau ditanya fee masing-masing pasti ada. Terlepas perkara jumlahnya,” ucapnya.

Kemudian, bagi-bagi itu ketika ada Kepala Sekolah (Kepsek) yang mengorder ke advertising. “Istilahnya kita orang timur, cari uang masuk. Bukan munafik. Pengusaha lah memberikan fee sebagai terima kasih Rp 100 ribu. Ditawar Rp 250 ribu lah,” bebernya.

Sementara, Toran Tambunan saat coba dikonfirmasi via telepon seluler, Minggu (10/11/2019) sekira pukul 18.09 WIB tak aktif.

Sebelumnya, Toran Tambunan, Kamis (7/11/2019) sekira pukul 16.48 WIB membenarkan percetakan itu berlokasi di Jalan Jeruk. “Iya di Jalan Jeruk,” jawabnya singkat usai ditanya apakah benar percetakannya berlokasi di Jalan Jeruk sembari mengaku sedang menurunkan beras.

Sementara, Orendina Lingga saat ditemui, Jumat (1/11/2019) sekira pukul 11.39 WIB di ruang kerjanya mengaku mengetahui supir pribadinya yang mempasok spanduk dan kalender.

“Iya. Kalau itu dia kerja sama dengan percetakan. Saya ketahui. Tapi, bukan saya pelakunya,” kilahnya, sembari menolak pertanyaan wartawan untuk menyebutkan nama percetakan yang dimaksud.

Untuk harga spanduk dan kalender, Orendina membenarkan dijual seharga Rp 300 dan dibayar menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang dikelola SMP Negeri.

“Itu nanti dibayar pakai dana BOS. Dimasukan duluan ke RKS (Rencana Kerja Siswa). Harganya Rp 300 ribu. Panjangnya 5 meter dan tingginya 1 meter. Sepanjang yang saya tau ya,” papar Orendina.

Ketika disinggung mengenai harga spanduk dan kalender bisa diketahui, namun berita yang gencar seminggu belakangan ini justru dinilai tidak benar. Orendina, menyampaikan tau karena diberitahu. “Tau lah, karena dikasih tau,” elaknya.

Diketahui, SMP se Kabupaten Simalungun jumlah berjumlah 62 unit. “Ada 62 SMP. Bukan resmi. Mereka minta izin ke saya,” jelas Orendina seraya menyampaikan supir pribadinya sebagai rekanan dari percetakan.

Selain itu, Orendina bilang tidak ada merampok meubiler (bangku dan meja) dan menyampaikan rehabilitasi ruang belajar SMP dikerjakan swakelola.

“Saya bukan perampok. Masyak pejabat dibilang perampok. Swakelola itu. Konsultannya marga Tindaon,” jelasnya. (Zai)