Tak Miliki Hutan Resapan Dituding Penyebab Banjir Bandang, Maneger Marihat Bungkam

Simalungun, Lintangnews.com | Tak miliki hutan resapan dituding penyebab banjir bandang hingga berulang merusak akses penghubung dari arah Kota Siantar ke arah Tanah Jawa, persisnya di Pondok 8 Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Manager PTPN IV Kebun Marihat, Erwin Zuliawan Nasution justru malah bungkam. Meski konfirmasi pesan singkat WhatsApp (WA) terkait tudingan dari masyarakat itu dilayangkan lintangnews.com, Selasa (22/10/2019) malam, status terkirim atau tertanda ceklis dua.

Aman, salah seorang warga sekitar Nagori Marubun Jaya kepada lintangnews.com di lokasi menyatakan, dirinya optimis segala upaya pemerintah membangun akses penghubung jalan akan sia-sia alias hanya menghambur hamburkan uang negara.

Ini jika pihak PTPN IV Marihat tidak juga bersedia untuk membangun permanen sebuah waduk pengontrol air. “Sebelum dibuat permanen oleh perkebunan, maka pembangunan akses penghubung jalan akan sia-sia. Dan hanya menghamburkan uang negara saja,” sebutnya.

Sebab lanjutnya, selama beberapa bulan ini menangon lembu tak terlihat adanya hutan resapan. “Kalau galian ada di atas sana. Tetapi ya galian itu gak mampu. Makanya setiap hujan deras di hulu wilayah ini luapan curah hujannya kemari,” paparnya.

Menurutnya, sewaktu masih ada perkebunan teh Kasindir, daerah itu tak pernah banjir, sehingga merusak akses penghubung jalan. “Waktu masih ada kebun teh Kasindir, dulu jarang banjir. Air yang paling banyak itu dari Kasindir. Karena daerah itu hulu,” ujarnya.

Perlu diinformasikan, hutan resapan dimaksud warga adalah hutan lindung. Ini merupakan lahan besar terdiri dari kumpulan flora dan fauna yang terbentuk secara alami atau tidak merupakan hutan yang memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan.

Tujuannya sebagai sistem penyangga kehidupan, mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, serta mencegah instrusi air laut jika lahan Hak Guna Usaha (HGU) berdekatan dengan laut dan untuk memelihara kesuburan tanah. (Zai)