Siantar, Lintangnews.com | Warga Kelurahan Asuhan, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar didampingi LSM Koalisi Sebelas mendatangi kantor Lurah setempat, Jumat (8/1/2021).
Kedatangan mereka untuk melakukan pertemuan yang disambut Sekretaris Kecamatan (Sekcam), Fadlan dan pegawai Kelurahan Asuhan, Merlin Siahaan.
Sebelumnya, warga menandatangani keberatan atas kinerja relawan Tenaga Kesejahteraan Sukarela Kecamatan (TKSK) di Kelurahan Asuhan selama ini, yakni Roida Simbolon, Fanny Sidabutar dan Charles Siahaan.
Seperti penuturan Sartika boru Simanjuntak, jika di tahun 2019 ada pendataan warga penerima bantuan sosial (bansos). Mendengar kabar itu, Sartika meminta kepada Ketua Rukun Tetangga (RT) agar namanya dimasukkan sebagai penerima bantuan.
“Lalu Ketua RT mengatakan pada saya agar menemui Relawan TKSK. Karena bagaimana pun, omongan orang itu (relawan TKSK) yang betul dan jadi siapa penerima bantuan,” tukasnya.
Kemudian Sartika mendatangi rumah Roida, berharap dirinya dapat dimasukkan sebagai penerima bantuan. Namun Roida menawarkan agar bulan depannya dapat dimasukkan mendapat bansos dari pemerintah.
“Tetapi dia (Roida) mengatakan agar itu jangan dibilang pada siapa pun,” kata Sartika menirukan ucapan Roida.
Mengetahui bantuan beras turun, Sartika bergegas ke kantor Lurah untuk mengantri mendapatkan bantuan dimaksud. Namun Sartika tidak mendapat beras saat pembagian itu dan justru Roida mengatakan warga lainnya, si Manik Lobang diusulkan menerima bantun beras. Akhirnya Sartika pulang dan malamnya ada yang mengantarkan beras ke rumahnya.
Dia juga menuturkan, suatu hari bertemu Fanny Sidabutar dan meminta tak usah datang ke kantor Lurah. Karena nanti berasnya diantar Putra anak dari kakak Fanny.
Dan yang mengesalkan bagi Sartika pada bulan Desember tahun 2020 lalu saat pembagian sembako Covid-19.
“Roida mengatakan pada Jack anak kandung saya, ‘mamakmu sudah dapat sembako jadi jangan ribut-ribut lagi’. Memang itu sembako dari kantong Roida, makanya ngomong seperti itu,” pungkas Sartika, seraya meminta pihak Kelurahan mengganti seluruh relawan di tahun 2021 terutama Roida Simbolon.
Warga lainnya, Magdalena Boru Ginting mengaku, pernah ditawari Roida mengurus Kartu Keluarga (KK) dengan meminta uang sebesar Rp 800 ribu agar siap diurus. Lalu Magdalena bertanya untuk apa sebanyak itu.
“Dia menjawab, itu untuk orang sana, bukan aku yang makan itu,” tutur Magdalena seraya mengaku, dirinya orang susah dan hanya mampu membayar Rp 300 ribu, hingga akhirnya tidak jadi mengurus KK.
Sementara Oloan Sidabutar menuturkan, Roida mengintervensi istrinya terkait aksi demo warga beberapa waktu di kantor Wali Kota Siantar. Istrinya pun menyatakan, tidak pernah ikut demo.
“Untuk apa relawan ikut campur bertanya tentang demo. Sementara demo itu hak setiap orang asal ada izin dan tidak anarkis. Sehingga terkesan tidak hanya mengurusi pendataan warga, tetapi urusan pribadi orang juga ikut dicampurinya,” tukas Oloan.
Saat pertemuan, warga lainnya, Artha Uli Silalahi membacakan puisi yang ditulis di atas kertas nasi atas kekecewaannya terhadap kinerja para relawan di Kelurahan Asuhan.
LSM Koalisi Sebelas, Tahoma Silalahi mengatakan, pernah menjadi relawan TKSK di Asuhan. Namun dirinya dianggap tidak bisa kerja sama dengan Kelurahan, sehingga dikeluarkan dari relawan.
“Saya jujur makanya dikeluarkan. Coba apa salah saya? Keluhan masyarakat ini agar didengarkan semua pihak, bukan hanya Kelurahan tetapi juga Dinas Sosial (Dinsos) dan instansi pemerintah. Ini agar kedepannya relawan yang terpilih bisa bertanggungjawab bagi kesejahteraan masyarakat,” papar Tahoma. (Andre)


