Ikan Gamak ‘Buah’ dari Sei Bilah Diketahui Unik dan Terkesan Misteri  

Tokoh Masyarakat Bilah Hilir, Herry Ritonga (duduk) dan pedagang ikan gamak dalam kemasan plastik, Saroh.

Labuhanbatu, Lintangnews.com | Daerah Sei Bilah salah satu kebanggaan warga yang memanjang di Kabupaten Labuhanbatu mulai dari hulu hingga hilir bahkan muara, memiliki cerita unik di berbagai sudutnya.

Salah satu keunikan yang merupakan ‘buah’ Sei Bilah itu adalah ikan gamak. Selain rasanya manis, bentuknya pun lebih kecil dari ikan teri nasi dan berwarna keputihan, serta dampaknya telah meningkatkan pendapatan nelayan.

Jenis ikan ini pun tidak seperti ikan yang lain pada umumnya. Ikan akan bertelur jika tiba musim penghujan. Selain itu, bisa dibedakan antara induk dan anak.

Ikan juga dapat dibudidayakan dan akan diketahui perkembangbiakan selanjutnya. Artinya ada beberapa tahapan yang harus dilalui, misalnya  induknya jelas, bertelur, menetas dan menjadi anak, kemudian berkembang hingga dianggap dewasa (layak dipanen).

Namun itu tidak dapat ditemukan pada ikan gamak. Sebab hingga saat ini mana induk dan anak belum dapat dipastikan secara ilmiah. Musimnya pun tidak dapat diprediksi, munculnya bisa 2 hingga 3  kali setahun.

Ini diungkapkan  Tokoh Masyarakat, Herry Ritonga (64) ketika berbincang-bincang di warung kopi (warkop) milik Lastri di Kelurahan Negeri Lama, Kecamatan Bilah Hilir, Rabu (22/2/2023).

Herry mengatakan, kemunculan ikan gamak itu pun jika tiba musim pasang besar tanpa diikuti hujan. “Munculnya di permukaan saat pasang besar dan tanpa ada hujan,” ungkapnya.

Anehnya lagi, ikan gamak itu tidak ditemukan di Kecamatan lain yang dilintasi Sei Bilah. Artinya hanya ada di Bila Hilir dan bukan di satu titik saja.

“Dulu katanya, ketika nelayan sudah selesai menangguk ikan gamak di atas permukaan air sungai dengan jaring  halus mirip kelambu, lalu dimasukkan ke dalam sumpit guna meniriskan airrnya. Namun saat ini sulit mencari sumpit dan lebih praktisnya dibungkus di dalam plastik dengan ukuran 1 (satu ) muk (kaleng susu) guna mempermudah menjualnya di pasar atau kepada tetangga,” kata Herry.

Salah satu pedagang ikan gamak, Saroh (25) kepada wartawan mengaku, menjual dalam kemasan plastik berisi 1 muk atau setara 3  ons seharga Rp 25.000-30.000.

Mantan Lurah Negeri Lama, Ahmad Fadhil kepada wartawan mengatakan, pihaknya pernah diundang pertemuan di Kota Medan terkait ikan. Ketika itu narasumber juga mengaku bingung, tentang data valid ikan gamak.

“Ahlinya saja bingung, apalagi saya. Kesannya misteri,” ungkapnya. (Sofyan)