Anggota DPRD Sumut Ini Protes Dikaitkan Atas Berita Penangkapan Suaminya

Anggota DPRD Sumut, Sarma Hutajulu.

Tobasa, Lintangnews.com | Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, Sarma Hutajulu protes akibat namanya dikaitkan dengan pemberitaan di berbagai media online maupun konten media sosial (medsos).

Ini terkait pemberitaan penangkapan suaminya Henry Panjaitan (55) yang ditangkap setelah melarikan diri selama 11 tahun. Sarma mengancam akan melakukan upaya hukum.

“Saya perlu mengklarifikasi pemberitaan yang beredar di medsos, bahkan dishare sejumlah akun Facebook,” ujar Sarma, Kamis (25/4/2019).

Pasalnya menurut Sarma, tidak semua yang diberitakan itu benar keadaanya dan tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Sarma menceritakan awal mula kasus yang terjadi sekitar 16 tahun lalu itu.

Menurutnya, sekitar tahun 2002, ada pergolakan politik menjatuhkan Wali Kota Siantar Marim Purba. Pada saat itu Pasar Horas terbakar dan ada proyek bencana alam pembangunan pasar sementara di bahu Jalan Merdeka, Siantar.

“Bukan kami sebenarnya pemborong (rekanan) nya, hanya ikut memodali pekerjaan dan join (bergabung) 3 orang. Karena nuansanya waktu itu politik, maka rekanan lah yang jadi korban ke Pengadilan sebanyak 2 orang,” kata politisi PDI-Perjuangan ini.

Sarma menjelaskan, sewaktu sidang di Pengadilan Siantar (PN) Siantar, putusannya bebas murni, karena memang mereka hanya sebagai pemodal dan tidak ada nama dalam dokumen kontrak.

“Selanjutnya, jaksa kemudian kasasi ke Mahkamah Agung (MA) dan putusannya tidak pernah kami terima hingga saat ini, sampai terjadi penjemputan kemarin,” tukasnya.

Dirinya juga keberatan jika suaminya disebut masuk sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). “Karena sejak dulu kami di Medan dan tak pernah melarikan diri serta tinggal di alamat rumah saat ini sejak tahun 2007,” papar Sarma.

Dia menilai, pemberitaan itu terlalu bombastis dan keras unsur politisnya. Ini agar Kejaksaan seolah-olah berprestasi dan dikait-kaitkan dengan namanya supaya nilai berita naik.

“Suami saya bukan Aparatur Sipil Negara (ASN), hanya rekanan yang mengerjakan tender sesuai bestek dan tidak mempunyai kekuasaan untuk korupsi. Banyak pihak yang bergembira atas penderitan dan musibah ini. Biar lah Tuhan yang mengampuni mereka dan kami minta doa dan dukungan agar kuat menghadapi cobaan ini,” paparnta.

Sarma juga mengungkapkan, akan melakukan somasi terhadap media yang menerbitkan berita itu tanpa ada konfirmasi. “Saya sedang mempelajari dan menyiapkan somasi,” kata Sarma. (frengky)