Diungkap Polres Tobasa, Pencabulan Putri Kandung Terancam Pidana Seumur Hidup

Arist Merdeka Sirait.

Tobasa, Lintangnews.com | Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait menyampaikan aspirasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Polres Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

Ini terkait dengan penetapan tersangka terhadap NN (51) warga Tobasa sebagai pelaku kejahatan seksual terhadap putri kandungnya berusia 7 tahun, dengan ancaman pidana penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

“Kita mengapresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja keras penyidik Satuan Reskrim Unit PPA  Polres Tobasa yang telah melakukan penegakan hukum yang cepat, tepat dan luar biasa (extraordinary),” sebut Arist Merdeka, Jumat (22/3/2019) via telepon seluler.

Menurunya, penerapan pasal 82 ayat (2) dari Undang-Undang (UU) Nomor 17 tahun 2016 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU Nomor  23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, junto UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Uu Nomor 23 Tahun 2002 terhadap tindakan bejat NN, merupakan  bukti dan komimen  Kapolres Tobasa untuk tidak ada kata kompromi terhadap kejahatan seksual anak dan kejahatan kemanusian bentuk-bentuk lainnya.

“Saya menaruh penuh harapan kepada Kapolres Tobasa atas kerja kerasnya dan komitmennya terhadap kasus-kasus kejahatan seksual dan kasus pelanggaran hak anak lainnya yang masih ‘parkir’ di Unit PPA,” paparnya.

Putra asli Porsea ini menuturkan, kemungkinan itu karena masih membutuhkan pembuktian hukum, dan demi keadilan bagi korban dapat segera menindaklanjutinya.

Sesuai hasil investigasi mitra kerja Komnas PA yakni Relawan Sahabat Anak Indonesia berbasis di Tobasa dan pekerja media, jika kasus ini berawal tahun 2017 ketika NN (51) selepas pulang dari kedai (warung) tuak kebiasaannya langsung masuk ke dalam kamar, sementara istri dan putrinya sudah tidur terlelap.

Kemudian NN berbaring di samping putrinya dan melakukan aksinya bejatnya secara berulang-ulang. NN melakukan perbuatan bejatnya kepada putrinya disinyalir sudah berjalan hampir 2 tahun.

Setiap kali melampias nafsu bejatnya, NN melakukan intimidasi dan ancaman kepada putrinya untuk tidak  memberitahukan pada ibunya dan keluarga. Hal ini membuat korban menjadi anak pemurung, stres dan tak berani melaporkan peristiwa kejahatan seksual yang menimpanya.

Arist Merdeka menjelaskan, atas peristiwa menjijikkan dan berbagai tindak pidana incest (hubungan sedarah), sehingga telah menambah daftar panjang anak korban kejahatan seksual di Tobasa.

Menurutnya, jika Tobasa saat ini dalam kondisi darurat kekerasan seksual terhadap anak, sehingga menuntut Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) setempat bekerja lebih keras lagi untuk penanganan kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak yang terjadi di wilayah Tobasa yang religus dan memegang  teguh prinsip-prinsip adat.

Pihaknya juga menuntut peranan gereja sebagai institusi dan personal, tokoh masyarakat dan adat, alim ulama dan para pegiat perlindungan anak di Tobasa bahu membahu untuk melawan kejahatan kemanusiaan itu. Caranya dengan memberikan perlindunganbagi anak di semua sektor di Tobasa.

“Keberadaan miras oplosan di kedai tuak di Tobasa sebagai salah satu ‘triger’ terjadinya kejahatan seksuak juga perlu mendapat kajian dan evaluasi secara konfrehensif,” ucap Arist. (asri)