Dua Ketua KPPS Nagori Moho Nyaris ‘Tewaskan’ Seorang Anggotanya

Ketua KPPS 1, Sulaiman Manurung dan Ketua KPPS 3 Nagori Moho, Rabita Damanik saat memberi keterangan pers.

Simalungun, Lintangnews.com | Dua orang Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (PPS) di Nagori Moho, Kecamatan Jawa Maraja Bahjambi, Kabupaten Simalungun nyaris ‘menewaskan’ 1 orang anggota KPPS pasca Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 17 April 2019 lalu.

Ini karena kedua Ketua KPPS yakni, Rabita Damanik dan Sulaiman Manurung ‘menyunat’ anggaran konsumsi per Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang disalurkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Simalungun. Yakni sebesar Rp 810 ribu menjadi Rp 650 ribu.

Akibat anggaran konsumsi ‘disunat’, anggota KPPS di TPS 1, Masliana Manurung jatuh sakit. Ini karena tidak diberi makan pada malam harinya, sehingga dirinya dilarikan ke Puskesmas Bangun.

Takut aksi yang dilakukan terungkap, Rabita Damanik selaku Ketua KPPS 3 dan Sulaiman Manurung Ketua KPPS 1 justru memutar balik fakta ke sejumlah media.

Dikatakan keduanya jika Pangulu Nagori Moho, Suprayogi telah melakukan pengutipan sebesar Rp 650 ribu dari setiap KPPS yang bertugas di 5 TPS.

Saat mengutip, kata kedua Ketua KPPS itu, Suprayogi berjanji menyediakan makan dan minuman untuk 45 orang anggota KPPS yang tersebar di 5 TPS di Nagori Moho selama 1 hari.

Keduanya juga mengungkapkan, usai pengutipan itu, konsumsi yang disediakan Suprayogi hanya untuk pagi dan siang harinya.

Kepada media, Sulaiman yang notabene pensiunan PNS Pemkab Simalungun menyesalkan perlakuan Suprayogi yang secara terang-terangan tidak menepati kesepakatan menyediakan makan malam.

Dikatakan, akibat Suprayogi tidak menepati janji, mereka terpaksa meninggalkan tugas di TPS. Pulang ke rumah masing-masing untuk makan malam. Ini yang membuat Masliana Manurung jatuh sakit.

Menanggapi hal itu, Suprayogi membantah penyebab jatuh sakitnya anggota KPPS.

“Sebenarnya saya tidak melakukan pungutan, tapi itu atas mufakat untuk memberdayakan PKK Moho. Lalu disepakati Rp 650 ribu itu untuk menyediakan sarapan, makan siang dan snack sore harinya,” ungkap Suprayogi.

Jika Masliana Manurung nyaris ‘tewas’, lanjut Suprayogi via telepon, Sabtu (4/5/2019), itu karena kedua Ketua KPPS tersebut tidak mendistribusikan anggaran konsumsi yang disunat.

Sesuai kesepakatan secara lisan, sambungnya, dana sebesar Rp 650 ribu per TPS untuk memberdayakan PKK Moho.

Menurutnya, itu disanggupi PKK, dana Rp 650 ribu untuk pengadaan sarapan, makan siang dan snack pada sore harinya,dan itu semua terealisasi.

Diduga ketakutan, Rabita Damanik langsung memblokir WhatsApp (WA) miliknya. Meskipun 3 video bantahan dari 3 orang Ketua KPPS lainnya dan ibu PKK di Nagori Moho terkirim. (zai)