Eucalyptus Dituding Penghisap Air, Ahli Hutan Beberkan Fakta Terbalik  

Tanaman Eucalyptus.

Toba, Lintangnews.com | Pohon ucalyptus dituding sebagai tanaman penghisap air (boros air) dan berpotensi menyebabkan kekeringan.

Fakta itu secara tegas dibantah oleh Mangasi Sianipar, lulusan ilmu Manajemen Hutan IPB (Institut Pertanian Bogor) tahun 1990 yang pernah bekerja sebagai Konsultan Pengelola Hutan Lestari dan sebagai Manager di PT Diamon Raya Timber (pengusahaan hutan).

PT Diamon Raya Timber merupakan perusahaan yang pertama sekali mendapatkan sertifikat Hutan Lestari FSC (Forest Stewarship Council) di Indonesia.

“Banyak orang beranggapan jika pohon eucalyptus merupakan salah satu tanaman yang paling boros air di Kabupaten Toba seperti yang sering dituduhkan banyak orang. Namun ternyata, tanaman padi, akasia dan pinus lebih boros dari eucalyptus,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (1/7/2021).

Dia pun menerangkan, eucalyptus merupakan tanaman yang butuh sedikit air dan banyak menyerap karbondioksida, serta menghasilkan oksigen tinggi. Hal itu harus dilihat dari ilmu Hydroligi Evapotranspirasi.

“Evapotranspirasi adalah gabungan evaporasi dan transpirasi tumbuhan yang hidup di permukaan bumi. Air yang diuapkan oleh tanaman dilepas ke atmosfer. Evaporasi merupakan pergerakan air ke udara dari berbagai sumber seperti tanah, atap, dan badan air. Transpirasi merupakan pergerakan air di dalam tumbuhan yang hilang melalui stomata akibat diuapkan oleh daun. Evapotranspirasi adalah bagian terpenting dalam siklus air,” terangnya.

Jika dibandingkan dengan tanaman pinus, jumlah stomata eucalyptus lebih sedikit. Eucalyptus 52 lubang mm2 dan pinus 67 mm2 yang mengakibatkan penguapan yang lebih tinggi. Profil daunnya juga sedikit dibandingkan pinus.

“Eucalyptus hanya memiliki daun di atasnya dan memangkas tangkai sendiri,” imbuh Mangasi.

Terkait isu tutup PT Toba Plup Lestari Tbk (TPL) yang sedang marak saat ini, diduga Mangasi merupakan pengaruh dari bisnis pulp Eropa dan Indonesia. Pasalnya, Sumatera pada khususnya Toba, dinilai bagus untuk menanam eucalyptus karena berada di garis khatulistiwa yang selalu tersedia hujan dan sinar matahari sepanjang tahun. Hal ini membuat tanaman eucalyptus bisa tumbuh dan dipanen dalam kurun waktu 5 tahun di Indonesia.

“Berbeda dengan negara Eropa yang membutuhkan waktu 15-20 tahun karena matahari dan salju mempengaruhi pertumbuhan eucalyptus. Patut diduga terjadi persaingan bisnis dunia antara pasar Eropa dan  Indonesia khususnya,” paparnya.

Ditambahkan Mangasi, sebelumnya para ahli telah melakukan penelitian tanaman yang cocok di Toba oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memutuskan eucalyptus jauh lebih aman dan menguntungkan. Penelitian terkait dengan jumlah curah hujan pertahun, sinar matahari dan pergantian iklim. (Aldy)