Galian C Ilegal Marak Beroperasi di Bandar Pulau dan Rahuning

Aktivitas galian C ilegal di Kabupaten Asahan yang beroperasi di bawah dekat jembatan.

Asahan, Lintangnews.com | Banyaknya aktivitas kerja daerah pinggiran sungai, seperti kegiatan pertambangan galian C jenis batu kerikil dan batu sprit bebas beroperasi tanpa ada memiliki izin resmi.

Seperti aktivitas pertambangan di Dusun 2 Desa Bandar Pulau, Kecamatan Bandar Pulau dan  Desa Gunung Melayu Kecamatan Rahuning, Kabupaten Asahan, sudah lama bebas beraktivitas.

Pantauan lintangnews.com di lapangan, kemarin, salah satu aktivitas pertambangan tepatnya di bawah jembatan sudah berlangsung lama dan mengancam untuk pertahanan jembatan.

Seharusnya setiap dekat jembatan tidak dibenarkan ada aktivitas apapun. Jika pun ada aktivitas harus sejauh radius 500 meter. Namun disayangkan aktivitas pertambangan galian C batu kerikil bisa beraktivitas di bawah jembatan.

Ketua DPP LSM Suara Rakyat, Buyung  Batubara menuturkan ada sejumlah aturan yakni, Keputusan Mendagri Nomor 32 Tahun 1991 tentang Pedoman Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C, Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi no 03/P/M/Pertambem 1981 tentang Pemberian Surat Izin Pertambangan Galian C dan Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Galian C.

Aktivitas galian C yang beroperasi tanpa ijin.

“Berdasarkan itu, setiap orang yang akan melakukan pertambangan, wajib meminta izin terlebih dahulu dari negara atau pemerintah. Apabila terjadi kegiatan pertambangan dan pelakunya tidak memiliki izin, maka perbuatannya merupakan tindak pidana yang diatur dalam pasal 158 UU Nomor 4 Tahun 2009,” sebut Buyung di kantornya.

Buyung menjelaskan, setiap orang yang melakukan usaha pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam pasal 37, pasal 40 ayat 3, pasal 48, pasal 67 ayat 1 dan pasal 74 ayat 1 atau 5, maka dipidana dengan pidana penjara  paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

“Kita meminta Pemkab dan Polres Asahan untuk menertibkan pertambangan galian C illegal. Ini agar tidak menjadi kecemburuan buat pengusaha tambang yang sudah memiliki izin,” ucapnya.

Sementara itu dari informasi dari seorang warga berinisial Af menyebutkan, galian C batu kerikil dan batu sprit itu atas nama Sihombing, Parioto, Syamsul, Efi dan Sugi.

Terkait hal itu, salah seorang pegawai Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Asahan, Ilham ketika dikonfirmasi melalui via telepon seluler, membenarkan jika belum ada mengurus izin terkait tambang yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS). “Sampai saat ini belum ada mereka urus izinnya,” ungkap Ilham, Senin (25/2/2019). (handoko)