Gunakan Kayu Sembarang, Kualitas Proyek Kampung Ulos di Samosir Dipertanyakan

Samosir, Lintangnews.com | Penggunaan material kayu sembarang sebagai bahan baku yang dipakai dalam pembangunan kontruksi penataan Kampung Ulos di Huta Raja, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan dan Huta Siallagan Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dipertanyakan kualitasnya.

Hal ini diungkapan Ketua Umum DPP Perkumpulan Lembaga Swadaya Forum Komunikasi Gerakan Cinta Entitas Indonesia (PLSF-Graceindo), Sudirman Simarmata kepada awak media, Rabu (17/3/2021) ketika disambangi di Huta Raja Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan.

“Temuan kita di lapangan, yang dipakai seharusnya kayu sembarang keras dari luar daerah. Ini karena jenis yang tercantum di Rencana Anggaran Biaya (RAB) tidak menunjukkan kayu dari daerah Samosir,” sebutnya.

Contoh kayu sembarang keras seperti, agathis, balau, balau merah, bankira, damar, durian, jelutung, kapur, giam, gia, kapur petanang, kenari dan masih banyak lagi jenis lain yang tidak ada di Samosir.

“Kalau kita lihat fakta di lapangan, mereka memakai jenis kayu bintatar atau kayu Batak yang dipakai hanya untuk menjadi kayu bakar. Ini termasuk kayu Raja yang dipakai hanya membuat sampan untuk nelayan,” sebut Sudirman .

Pihaknya berharap kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Cipta Karya Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Sumatera Utara atau Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Prasarana Pemukiman Wilayah III Sumut untuk menindaklanjuti temuan itu.

Kayu sembarang keras dalam pembangunan atap rumah adat di Huta Raja Desa Lumban Suhi Suhi Toruan.

Pembangunan Kampung Ulos di Samosir sesuai kontrak kerja : HK.02.03-Cb2/PPK-PKP/Wil III-SU/2020 tertanggal 21 Oktober 2020 dikerjakan kontraktor pelaksana PT Betesda Mandiri. Dengan waktu pelaksanaan selama 270 hari kalender dan pagu anggaran sebesar Rp 52.499.554.077,61.

Sementara itu, salah seorang pemilik rumah Kampung Ulos di Huta Raja, Saroha Simarmata mengaku, tidak mengenal kayu sembarang keras seperti yang sudah dibuat dalam RAB kegiatan proyek bersumber dari APBN tersebut.

“Karena saya melihat kayu yang mereka pasang seperti kayu bintatar dan kayu Raja. Saya keberatan dan meminta untuk dibongkar kembali,” ujarnya.

Saroha menegaskan, rumah peninggalan kakek nya merupakan rumah adat Batak yang masih meninggalkan sejarah tata cara pendirian bangunan memakai kayu keras.

“Dengan terpaksa saya pasti keberatan, karena pasti kena tegur dari keluarga kalau tidak ditegur pihak kontraktor,” pungkasnya.

Pihak kontraktor saat hendak dikonfirmasi di lapangan tidak dapat temui. Tampak hanya para tukang danpelayan tukang dapat dijumpai awak media. (Tua)