Harga TBS Anjlok, Petani Sawit Asahan Keluhkan Biaya Pupuk dan Sekolah Anak

Asahan, Lintangnews.com | Harga Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit masih anjlok menjadi Rp 800 per kg. Bahkan ada juga Rp 900 per kg dari sebelumnya Rp 1.200 per kg.

Diketahui sudah 5 bulan terakhir ini harga sawit terus mengalami penurunan. Ini terjadi sejak awal bulan Januari hingga Juli harga sawit tetap di bawah Rp 1.000. Akibatnya, kalangan petani sawit di Kabupaten Asahan mulai bingung.

“Bukan tambah naik harga jual kelapa sawit justru turun. Saat ini Rp 800 per kg harga jual dan turun sejak mulai bulan Januari lalu,” kata Wagimin dan Sumadi, petani sawit di Dusun III Desa Teladan, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, Senin (29/7/2019).

Keduanya menuturkan, biasanya kalau harga mencapai Rp 1.000 per kg, mereka bisa mendapatkan hasil panen sebanyak 2 ton, sehingga uang penjualan cukup lumayan.

“Saat ini hasilnya memprihatikan. Belum lagi untuk biaya perawatan dan kebutuhan sehari-hari berdampak sekali akibat harga sawit tidak kunjung naik,” sebut Wagimin.

Barianto, pedagang pengumpul sawit di Tinggi Raja mengatakan, turunnya harga karena pihak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) belum menaikkan harga pembelian.

“Pabrik (PKS) juga membeli ada yang di bawah Rp 1.000/kg, jadi belum bisa menaikkan harga di tingkat petani,” katanya.

Lanjutnya, kondisi ini membuat mereka mau tidak mau membeli harga di bawah Rp 1.000 per kg. “Akibat harga turun seperti ini juga berdampak buat kami. Biasanya banyak petani yang membeli pupuk, namun saat ini berkurang karena sedikitnya pendapatan mereka dari jual sawit,” ucapnya.

Terpisah, Saminem warga Buntu Pane mengatakan, semenjak turunnya harga sawit dinilai berdampak bagi mereka. Biasanya setiap bulan anaknya yang kuliah di luar kota dikirimi biaya sesuai yang dimintanya, tetapi saat ini terpaksa dikurangi.

“Benar-benar anjlok sekali tahun ini harga sawit, ditambah lagi buah treak. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak terpaksa lah kita cari kerjaan sampingan,” ungkapnya

Pihaknya berharap kepada pemerintah pusat, supaya memperhatikan kondisi ini. Apalagi sebagian besar masyarakat hidupnya tergantung dengan hasil pertanian.

“Kalau terus menerus harga sawit anjlok , bisa jadi nantinya anak-anak berhenti karena tidak bisa melanjutkan pendidikan. Pasalnya biaya pendidikan semakin meningkat, sementara pendapatan hasil tani tidak sesuai,” tandasnya. (Handoko)