Kanit PPA Polres Siantar Hilangkan Barbut Surat Curhat Korban Penganiayaan

Barang bukti surat korban penganiayaan.

Siantar, Lintangnews.com | Sempat 3 kali ditunda pembacaan nota pembelaan (pledoi) lantaran terdakwa kasus penganiayaan terhadap pembantu, Herawati Sinaga sakit, akhirnya pledoi dibacakan penasehat hukumnya di Pengadilan Negeri (PN) Siantar, Senin (11/3/2019).

Namun dokter gigi itu ketika membacakan nota pembelaannya merasa ada kejanggalan yang dilakukan pihak Polres Siantar. Dia mengatakan, kalau selama proses persidangan tidak ada kejanggalan. Melainkan dari pihak kepolisian ada kejanggalan.

“Pada saat berada di Kepolisian saya merasa banyak kejanggalan, terutama dengan hilangnya barang bukti saya sebelum dilakukan gelar perkara. Sehingga dalam gelar perkara, barang bukti saya tidak diikut sertakan. Dan saya ditetapkan langsung menjadi tersangka tanpa ada diikut sertakan saya maupun yang mewakili saya,” ungkap Herawati Sinaga kepada sejumlah awak media.

Ketika ditanya barang bukti seperti apa yang hilang, dirinya menyatakan, berupa selembar surat curahan hati yang ditulis oleh Serti Mariana Boru Butar Butar (korban).

“Dan surat itu saya temukan 2 hari sebelum dirinya (Serti) berangkat dari rumah. Surat itu juga saya temukan dari lipatan kain yang pada saat hendak menyetrika,” ujarnya.

Selanjutnya Herawati bersama suaminyamengantarkan surat itu ke Polres Siantar agar pihak Kepolisian dapat menyelidiki kasus tersebut.

“Hanya saja Juru Periksa (Juper) dan Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) berasumsi bahwa kami datang ke Polres Siantar dan menghadap Kapolres untuk melakukan negoisasi. Namun tidak seperti itu, kami datang menghadap Kapolres untuk menyerahkan barang bukti demi mengcounter berita-berita tentang kami,” pungkasnya.

Lanjutnya, dalam surat yang dituliskan itu, Serti merasa bahagia bersama mereka. Serti mengakui, dirinya dianggap sebagai anak kandung sendiri.

“Serti memohon maaf atas kejahatannya. Serti mengakui kami ajak kemana mana. Dan Serti mengakui kalau dirinya mempunyai penyakit kelainan seks,” sebut Herawati.

Hanya saja surat yang diberikan Herawati kepada Kanit PPA Polres Siantar, Ipda Herly Damanik hilang. Serti juga dipaksa untuk menulis kembali surat tersebut oleh Kanit PPA.

“Namun ketika saya tanya, kenapa bisa hilang, Kanit PPA jawabannya berganti-ganti. Sempat saya mau melaporkannya ke Unit Propam Polres Siantar. Namun niat itu saya urungkan lantaran Kanit dan Jupernya sudah meminta maaf. Bahkan saat menyalami saya, mereka mengatakan akan meng SP 3 (berhenti) kan kasus terhadap saya,” tuturnya.

Kemudian ketika ditanya terkait dirinya dituntut selama 10 bulan, Herawati merasa keberatan atas tuntutan yang diberikan Jaksa Penutut Umum (JPU), karena dirinya bukan pelaku penganiayaan.

“Saya tidak setuju, karena semuanya tidak sesuai fakta dan bukan pelaku penganiayaan. Ditambah lagi saya sudah dipermaikan oleh penegak hukum yang menghilangkan barang bukti (surat),” sebutnya mengakhiri. (res)