Kasus Penggelapan, 3 Terdakwa Dihukum 8 Tahun Penjara

Ketiga terdakwa menjalani persidangan di PN Tebingtinggi.

Tebingtinggi, Lintangnews.com | Terbukti bersalah, 3 orang terdakwa penggelapan dihukum 8 tahun penjara oleh majelis hakim yang diketuai Sangkot Tobing di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi, Kamis (14/3/2019).

Diputuskan hakim untuk terdakwa Ahmad Maula Simare-mare selama 3 tahun penjara. Sementara terdakwa Julaika dan Dhea masing-masing 2 tahun 6 bulan (berkas terpisah). Sedangkan pelaku lainnya, Aldi dan Poncu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Dalam tuntutan Jaksa Alvin pada pekan lalu menuntut ketiga terdakwa masing-masing 3 tahun 6 bulan penjara.

Disebutkan jika Kamis (4/10/2018) sekira pukul 05.20 WIB, terjadi kasus kejahatan di rumah Ahmad, Jalan Pulau Sulawesi Lingkungan II, Kelurahan Persiakan, Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebingtinggi.

Awalnya, Dhea sedang berada di depan Siantar Plaza Jalan Merdeka Kota Siantar dan bertemu dengan saksi korban, Ardiansyah F Sinaga yang saat itu mengendarai sepeda motor Honda Scoopy warna hitam dengan nomor polisi (nopol) BK 4318 WAI.

Dhea lalu memanggil Ardiansyah dan mengajak menuju Kota Tebingtinggi. Setibanya di rumah Ahmad, ternyata sudah ada Julaika dan Aldi. Saat berada di rumah itu, Dhea meminjam handphone (HP) merk Samsung dengan alasan bermain Facebook.

Kemudian Dhea meminjam sepeda motor Ardiansyah dengan alasan untuk membeli sarapan pagi bersama Julaika dan kembali ke rumah Ahmad.

Dhea pun teringat akan permintaan upah dari Ardiansyah untuk berhubungan badan. Selanjutnya Dhea menceritakan hal itu pada Ahmad, Julaika dan Aldi. Akhirnya mereka sepakat untuk menggelapkan barang-barang milik korban.

Dhea pun kembali meminjam sepeda motor milik Ardiansyah. Dhea bersama Julaika dan Aldi pergi menggunakan sepeda motor korban dan tidak kembali lagi ke rumah Ahmad.

Ahmad dan Julaika akhirnya membantu Dhea menjualkan barang-barang milik Ardiansyah. Mereka pun langsung pergi ke arah Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) tepatnya menuju rumah Poncu.

Kemudian menyerahkan sepeda motor dan HP milik Ardiansyah pada Poncu, sehingga terjual sebesar Rp 3,7 juta. Poncu pun mendapatkan upah sebesar Rp 200 ribu.

Sisa uang itu akhirnya dibagi-bagikan para pelaku. Dhea mendapat bagian sebesar Rp1,5 juta. Sedangkan Ahmad dan Julaika menerima bagian sebesar Rp 1,5 juta.  Dan uang sebesar Rp 100 ribu digunakan Ahmad membeli rokok.

Perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar pasal 480 KUHPidana. (purba)