Keterangan di Persidangan, Sudjito Tidak Memiliki Maksud Menghilangkan Nyawa Orang Lain

Kantor PN Simalungun (Ist)

Simalungun, Lintangnews.com | Penasehat hukum terdakwa Sudjito alias Gito mengungkapkan fakta-fakta hukum dalam persidangan dan menggaris bawahi beberapa hal dalam alat bukti surat dan keterangan saksi dalam perkara meninggalnya Mara Salem Harahap alias Marsal yang ternyata tidak sesuai dengan fakta sebenarnya di dalam Persidangan.

Hal ini tertuang dalam nota pembelaan/pledoi perkara pidana Reg. No. 346/Pid.B/2021/PN. Sim atas nama terdakawa Sudjito alias Gito yang dibacakan oleh kuasa hukumnya, Agus Siswoyo saat sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Kamis (13/1/2022).

Kuasa Hukum Sudjito, menjelaskan sejumlah hal yang tidak saling membuktikan perbuatan pidana yang telah didakwakan kepada terdakwa Sudjito.

Yakni, Sudjito telah meminta kepada saksi Yudi F Pangaribuan dan saksi Awaluddin untuk berbicara kepada agar korban tidak lagi memberitakan hal-hal yang negatif tentang KTV Ferrari milik terdakwa.

Dalam hal ini, Yudi Pangaribuan telah melakukan dialog dengan korban. Dan mendapat jawaban darinya agar KTV Ferrari membayar sebesar Rp 12 juta kepada korban dengan perhitungan 2 buah pil ekstasi setiap malam yang jika diuangkan dalam sebulan akan menjadi Rp 12 juta.

Hanya saja, menurut keterangan terdakwa, saksi dalam hal ini KTV Ferrari tidak sanggup membayar sebesar itu, dikarenakan usaha tersebut hanya menyewakan fasilitas karaoke dan menjual minuman.

Saksi Yudi dan Awaluddin (BAP di bawah sumpah yang dibacakan di persidangan), terdakwa Sudjito meminta agar korban diberi peringatan dengan shockterapy dan dengan bahasa canda, ‘ini anak mau diapakan, dari dulu udah keluar masuk penjara. Kalau nggak di shockterapy atau dibedil, nggak sanggup ini’.

Bahwa keterangan Awaluddin dan Yudi keduanya merencanakan malam tanggal 18 Juni 2021 untuk mencari keberadaan korban. Lalu mencoba pistol baru yang diterima di samping KTV Ferrari, menukar kendaraan mobil Kijang Innova dengan sepeda motor Honda Vario.

Hingga bertemu korban di jalan menuju Nagori Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun dan akhirnya berpapasan dengan posisi tepat di sebelah korban.

Lalu Awaluddin yang dibonceng sepeda motor oleh Yudi Pangaribuan menembak paha kiri korban sebanyak 1 kali.

Dalam analisa yuridis, sebagai kuasa hukum Sudjito, berdasarkan alat bukti berupa keterangan saksi dan bukti surat-surat yang diperiksa dihadapan persidangan, percaya bahwa tidak ada alasan untuk menyatakan terdakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 340 Jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHPidana, sebagaimana yang telah dituntut oleh saudara penuntut umum di dalam surat tuntutannya.

Bahwa oleh karena pasal yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni pasal 340 Jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHP, pasal 338 jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHP, pasal 353 ayat 3 jo 55 ayat 1 ke 2 dari KUHP atau 340 Jo 56 ke 2 dari KUHP, pasal 338 jo 56 ke 2 dari KUHP, pasal 353 ayat 3 Jo 56 ke 2 dari KUHP mengandung unsur ‘dengan sengaja’ menjadi unsur perbuatan pidana sehingga Penuntut umum berkewajiban untuk membuktikannya.

“Dalam hal ini, unsur ‘dengan sengaja’ juga harus meliputi unsur-unsur perbuatan pidana lainnya yang ada di belakang unsur ‘dengan sengaja’. Begitu juga dengan unsur-unsur lainnya, sehingga pembuktian kita nyata dan terang,” sebut pengacara dari Law Office Budi Dharma SH & Partners ini.

Ia menjelaskan, unsur-unsur pasal yang didakwakan terhadap terdakwa Sudjito, yakni mengenai unsur ‘barang siapa,’ bahwa JPU dalam tuntutannya mengungkapkan yang dimaksud dengan barang siapa atau setiap orang sebagaimana pengertian dalam KUHPidana adalah siapa saja orang yang dapat melakukan tindak pidana dan kepadanya perbuatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami setuju jika yang dimaksud barang siapa atau setiap orang dalam dakwaan penuntut umum adalah terdakwa Sudjito, orang yang dapat melakukan tindak pidana dan kepadanya perbuatan itu dapat dipertanggungjawabkan. Dan kami tidak membantah tentang tidak adanya penghapus pidana terdakwa. Namun kita harus membuktikan terlebih dahulu tiap-tiap unsur yang ada sebelum mengambil kesimpulan tersebut” terangnya.

Lanjut Agus, mengenai unsur ‘dengan suatu perencanaan’, bahwa benar terdakwa Sudjito ada menyuruh melakukan kepada Awaluddin maupun Yudi dan sampai waktu kejadian penembakan terhadap korban, adalah tempo yang cukup panjang untuk dapat dikategorikan memenuhi unsur ‘dengan suatu perencanaan’.

Ditambahkannya, mengenai unsur ‘dengan sengaja’, bahwa fakta dalam persidangan telah terbukti dari keterangan saksi Yudi yang saling bertalian dan meyakinkan dengan keterangan Awaluddin bahwa korban telah mencoba untuk memeras KTV Ferrari milik terdakwa tempat dimana saksi bekerja.

Bahwa terdakwa sebagai pemilik KTV merasa dirugikan dengan tindakan korban lalu meminta saksi untuk menyelesaikan secara kekeluargaan.

Namun karena merasa diperas terdakwa dalam suatu pertemuan mengatakan ‘ini anak mau diapakan, dari dulu, udah keluar masuk penjara, kalau nggak di shockterapy atau dibedil, nggak sanggup ini, ungkapan mana disampaikan kepada saksi Yudi dan beberapa orang yang ada ditempat tersebut dengan bahasa canda atau seloroh.

Kemudian saksi Awaluddin berinisiatif untuk mencari senjata pistol dan bersama saksi Yudi mencari korban hingga menembaknya.

Dari keterangan yang didapat dalam persidangan tersebut dapat dibuktikan bahwa Sudjito tidak memiliki maksud untuk menghilangkan nyawa orang lain

Sambung Agus, dalam persidangan terungkap dari keterangan saksi Awaluddin, Yudi dan keterangan Sudjito bahwa niat untuk menghilangkan nyawa orang lain tidak lah ada.

Hal ini terbukti dari keterangan yang mengatakan ‘diberi peringatan atau shockterapy dan dibedil saja’. Lalu tindakan Awaluddin yang menembak paha kaki kiri korban.

Kemudian hilangnya nyawa korban adalah diakibatkan mati lemas karena pendarahan akibat luka tembak yang mengenai pembuluh nadi besar.

Sangat logika apabila Awaluddin mempunyai niat dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, tentu dengan mudah dia mencari target tembakan kepada kepala tau dada tepat di area jantung.

“Dengan demikian unsur menghilangkan nyawa orang lain dalam perkara ini tidak dapat dibuktikan,” sebut Agus.

Diterangkannya, hilangnya nyawa orang lain sebagaimana dimaksud pasal 353 ayat 3 KUHPidana adalah bahwa matinya seseorang harus hanyaerupakan akibat yang tidak dimaksud si pembuat.

“Jadi jelas berbeda dengan yang dimaksud dalam pasal 338 KUHP, dimana kematian seseorang memang dimaksudkan oleh si pelaku,” ujarnya.

Dari keterangan Sudjito, Awaluddin dan Yudi tidak terlihat adanya niat untuk menghilangkan nyawa orang lain. Sudjito hanya menyuruh untuk memberikan peringatan/ shockterapy kepada korban.

“Kemudian dari keterangan kedua saksi, mereka juga berniat untuk memberikan peringatan/shockterapy,” tandas Agus. (Elisbet)