Masyarakat Desa Tanah Rakyat Asahan Diserang DBD, ini Penjelasan Camatnya

Camat Pulo Bandring, Berani Simbolon.

Asahan, Lintangnews.com | Masyarakat Desa Tanah Rakyat, tepatnya di Dusun 10 sampai Dusun 15 mengalami serangan penyakit menular yang diduga Demam Berdarah Denque (DBD) beberapa waktu terakhir.

Penyakit yang menimpa hampir setiap rumah di Desa Tanah Rakyat, Kecamatan Pulo Bandring, Kabupaten Asahan itu sudah berlangsung selama 2 bulan. Mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga orang tua.

Seperti yang dikatakan salah seorang  warga bernama Dita (45). “Kami satu keluarga sudah terkena penyakit itu mulai dari suami hingga anak-anak,” ujarnya, Jumat (23/8/2019).

Gejalanya badan terasa panas, ditambah bagian sendi-sendi tulang ngilu. Bahkan kalau tidak tahan dan sanggup berjalan  akibatnya harus diinfus di rumah pengobatannya.

“Alhamdulillah sekarang setelah kami berobat sudah sembuh. Tetangga kami sakit dengan penyakit  yang sama. Rata-rata setiap rumah sudah mengalami sakit yang sama,” ujarnya.

Pihaknya berharap kepada Pemkab Asahan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) membantu untuk membuat Desa mereka terhindar dari DBD.

“Ini agar kami semua disini bisa sehat  terhindar dari penyakit-penyakit lainnya,” tutupnya.

Menanggapi itu, Camat Pulo Bandring, Berani Simbolon ketika dikonfirmasi  melalui via telepon seluler mengatakan, penyakit yang menyerang warga itu mengarah ke DBD.

Pihaknya melalui Puskesmas Kecamatan Pulo Bandring sudah turun ke lokasi dan dilakukan pemantauan jentik-jentik nyamuk secara berkala oleh petugas Puskesmas.

Tidak hanya itu saja pihak Dinas Kesehatan(Dinkes) sudah melakukan  foging ke wilayah-wilayah yang terserang sakit tersebut.

Pihak Puskesmas Kecamatan Pulo Bandring juga melakukan sosialisasi  dan pemberantasan sarang nyamuk, dengan bergotong-royong membersihkan saluran drainase atau parit setiap turun ke Desa. Ini demi mewujudkan masyarakat yang sehat terhindar dari segala macam penyakit.

“Sampai saat ini data masyarakat yang menderita DBD sebanyak 5 orang. Selainnya tidak dapat didata karena masyarakat tidak mau periksa darahnya ke laboratorium,” ucap Camat. (Handoko)