May Luther dan Izah Sari Pimpin GMKI Siantar-Simalungun 2 Tahun Kedepan

Pengurus GMKI Siantar-Simalungun saat foto bersama.

Simalungun, Lintangnews.com | Konferensi Cabang (Konfercab) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Siantar-Simalungun ke XXVIII berlangsung sejak tanggal 7-10 Maret 2019 di Hotel Sapadia Parapat.

Kegiatan Konfercab diikuti 5 Komisariat yakni, GMKI Komisariat USI, STT HKBP, UHN Siantar, STIE Sultan Agung dan Evlogia Toba Samosir, serta dihadiri 54 utusan Komisariat.

Ketua Panitia, Izah Sari Marito Sihombing menuturkan, Konfercab merupakan perhelatan terbesar di tingkatan cabang, bertugas mengevalusi program kerja yang telah dilaksanakan selama 2 tahun.

“Kemudian, merumuskan garis-garis besar program umum cabang yang akan menjadi garis perjuangannya selama 2 tahun kedepan. Yang terakhir adalah memilih Ketua dan Sekretaris yang akan menjadi penanggung jawab GMKI Siantar-Simalungun selama 2 tahun kedepan,” jelas Izah Sari.

Sementara Sekretaris Panitia, Gading S menjelaskan, pelaksanaan Konfercab dihadiri para senior GMKI seperti, Rekson Silaban (Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Daniel Sibarani (Ketua KPUD Siantar, Lila Sinaga (Bawaslu Siantar), Pardomuan Simanjuntak (anggota DPRD Sumut), Darwin Girsan, Milton Napitupulu, Kristian Silitonga dan sebagainya.

Dalam pembahasan pokok-pokok pikiran eksternal, GMKI Siantar-Simalungun tetap setia pada medan pelayanannya hadir bagi mereka yang termarjinalkan dan kegilangan hak-haknya serta menjadi mitra kritis dari pemerintahan di Siantar-Simalungun.

Sementar sesuai hasil pemilihan yang berlangsung, Sabtu (9/3/2019), akhirnya terpilih May Luther Dewanto Sinaga sebagai Ketua GMKI Siantar-Simalungun masa bakti 2019-2021. Sementara sebagai Sekretaris terpilih Izah Sari Marito Sihombing.

Pada penutupan Konfercab, Ketua Demisioner, Wahyu Nolim Siregar berpesan pada penanggungjawab terpilih agar tetap menghayati nilai-nilai organisasi sebagai pondasi melayani yang kuat di 3 medan layanannya yakni, gereja, perguruan tinggi dan masyarakat.

“Konsultasi studi lokal yang membahas persoalan good governance dan kualitas demokrasi ada hal yang serius tetap disuarakan kedepannya sebagai mitra kritis pemerintahan,” tutup Wahyu. (rel)