Melihat Dekat Pura Besakih, Wisata Religi Pulau Dewata

Pura Besakih menjadi salah satu dari sekian banyaknya bukti peninggalan sejarah yang bernilai arsitektur dan ornamen khas leluhur Nusantara.

Oleh : Pranoto

Pesona Pulau Bali bukan melulu soal hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantainya, atau spot olahraga surfing yang telah tersohor hingga ke penjuru mancanegara.

Wisata religi seyogyanya tidak dilupakan atau dilewatkan oleh pelancong, khususnya wisatawan domestik yang berkunjung ke pulau Dewata. Hal ini semata-mata sebagai wujud cinta dan kebanggaan terhadap warisan budaya leluhur Nusantara.

Warga asli Pulau Bali sudah sejak lama dikenal ramah kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Mayoritas penduduknya yang memeluk agama Hindu, membuat Bali juga dijuluki sebagai Pulau Seribu Pura.

Dari sederet bangunan Pura yang ada, Pura Besakih di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem menjadi destinasi yang direkomendasikan untuk dikunjungi.

Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat Pura Besakih adalah sebagai tempat pusat kegiatan keagamaan Hindu di Pulau Bali. Ini dibuktikan dengan megahnya bangunan Pura Penataran Agung, yang menjadi pura pusat dari 18 Pura pendamping yang ada di komplek Pura Besakih.

Berjarak lebih kurang 42 km dari Kota Denpasar, perjalanan menuju Pura Besakih dapat ditempuh sekitar 2 jam dengan kendaraan roda 2 atau 4.

Sebagai catatan, jika anda ingin berkunjung ke Pura Besakih maupun tempat lain di Pulau Bali, sebaiknya terlebih dahulu mempersiapkan biaya untuk sewa kendaraan bermotor atau membayar paket tour pariwisata. Ini dikarenakan di Bali sangat jarang sekali ditemukan moda angkutan umum selain taksi.

Untuk masalah infrastruktur jalan, anda tidak perlu cemas karena dapat dipastikan hingga saat ini kondisi jalan raya menuju Pura Besakih sangat baik dan nyaris tidak ditemukan satu pun lubang mengangah di badan jalan. Hmmmm… Kalau di Kabupaten Simalungun kondisi infrastruktur jalannya bagaimana ya ? Boleh dijawab di kolom komentar ya sobat, hehehe…

Salah satu upacara keagamaan Hindu Bali yang tengah dilangsungkan beberapa warga di pelataran Pura Catur Lawa, salah satu Pura di kompleks Pura Besakih.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pura Besakih, dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 30.000 per orang. Biaya itu sudah termasuk jasa 1 orang pemandu wisata yang disediakan pengelola dari penduduk lokal desa Besakih dan 1 buah sarung khas Bali sebagai syarat memasuki kompleks Pura.

Tidak hanya itu, bagi pengunjung khususnya perempuan, dilarang memasuki kompleks Pura bila dalam kondisi menstruasi. Dan bagi pengunjung juga dilarang keras menaiki bangunan Pura. Pura Penataran Agung juga dilarang keras dimasuki wisatawan yang bukan masyarakat asli Bali penganut Hindu saat ada ritual keagamaan berlangsung.

Pun dengan pura Basukian dimana konon menurut babad Bali, pada tahun 163 Masehi, seorang pertapa bernama Resi Markandeya telah menancapkan pancadatu berupa emas, logam, perak, tembaga, dan perunggu disertai permata Mirah Adi, sebagai simbol asal muasal desa Basuki yang kini dikenal dengan nama Besakih.

Nyoman, salah seorang pemandu wisata mengatakan, setiap hari masyarakat Hindu Bali khususnya yang berdomisili di desa Besakih dan sekitarnya rutin mengerjakan ibadah sembahyang di Pura Besakih.

“Masyarakat Hindu Bali mempercayai dewa-dewa. Untuk di pura Penataran Agung sebagai sentral Pura Besakih, merupakan tempat berkumpulnya para dewa-dewa saat adanya upacara besar. Dan sehari-hari didiami oleh 3 Dewa yakni, Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa,” jelasnya.

Karya seni ukiran bangunan dan ornamen peninggalan leluhur Nusantara yang khas dari kompleks Pura Besakih semakin memanjakan mata saat pertama kali anda menginjakkan kaki di pelataran Pura yang berdiri kokoh di ketinggian 1000 MDPL tersebut.

Sudah seyogyanya kita sebagai generasi penerus ikut menghormati dan menjaga bangunan peninggalan sejarah sebagai perlambang jati diri bangsa. (***)