Pembunuh Ngatiem di Kebun Sawit Laras Terancam Hukuman Mati

Senen membonceng Ngatiem ke lahan perkebunan sawit PTPN IV Kebun Laras Afd III di Kecamatan Gunung Maligas.

Simalungun, Lintangnews.com | Bertempat di lokasi kejadian di areal perkebunan kelapa sawit Afdeling III PTPN IV Kebun Laras, Nagori Silau Bayu, Kecamatan Gunung Maligas, Satuan Reskrim Polres Simalungun menggelar rekonstruksi (rekon) pembunuhan korban Ngatiem alias Ati, Jumat (26/4/2019).

Kasat Reskrim, AKP Ruzi Gusman, didampingi Kanit Jatanras Iptu Hengky B Siahaan memimpin berlangsungnya rekonstruksi yang disaksikan langsung Jaksa Penuntut Umum(JPU) Doniel Hutasoit dan Penasehat Hukum tersangka.

Sebanyak 28 adegan diperagakan tersangka (S) alias Senen, dengan terlebih dahulu merencanakan perbuatannya untuk menghilangkan jiwa orang lain atau pembunuhan berencana.

Adegan per adegan yang diperagakan Senen disaksikan antusias ratusan warga setempat yang berbondong-bondong mendatangi lokasi rekon. Bahkan warga merasa bangga terhadap Polres Simalungun yang dengan cepat berhasil mengungkap pelaku pembunuhan terhadap Ngatiem.

Tersangka menghabisi nyawa korban dengan cara terlebih dahulu mengambil sebilah pisau miliknya dari dalam jok sepeda motornya. Dengan sekuat tenaga tersangka menikam punggung korban dari arah belakang sebanyak 1 kali. Usai mencabutnya, tersangka menyimpan pisau ke dalam jok sepeda motor.

Adegan pelaku Senen mengambil sebilah pisau dari jok sepeda motornya dan menikam punggung kanan korban.

Pada adegan ke 20, tampak korban yang menjerit kesakitan, berusaha untuk berdiri dan berlari kurang lebih 3-4 langkah. Namun korban jatuh tersungkur ke tanah dalam posisi telungkup. Tersangka sempat mendengar nafas seperti mengorok sebanyak 3 kali. Selanjutnya korban diam dan tidak kedengaran lagi suara ngoroknya.

Setelah memastikan korban sudah tidak bernyawa, tersangka pergi meninggalkan lokasi kejadian. Senen kembali pulang ke rumah orang tuanya di Seirapuh. Lalu mengambil pisau dalam jok sepeda motornya dan mencucinya di kamar mandi. Tersangka kembali menyimpan pisau di jok sepeda motornya.

Tersangka terancam hukuman terberat yakni hukuman mati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 Subsidair Pasal 338 dari KUHPidana dengan Laporan Polisi Nomor : LP/10/III/2019/SU/SIMAL – BANGUN, Tanggal 19 Maret 2019.

Sebelum dibunuh, korban dan tersangka sempat berhubungan intim. Namun karena tersangka tidak menyepakati harga bayaran jasa seks, membuat korban protes. Ternyata hal ini membuat tersangka gelap mata, hingga akhirnya menghabisi nyawa korban. (zai)