Penebangan Kayu di Pegunungan Desa Martoba Abaikan Dampak Lingkungan  

Kayu pinus yang sudah siap diolah menjadi papan di lokasi penebangan pohon.

Samosir, Lintangnews.com | Aksi penebangan kayu di kemiringan kaki kaki gunung, tepatnya di Desa Martoba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir menimbulkan pertanyaan masyarakat.

Pasalnya ini menunjukkan pemandangan yang tidak lajimnya ditumbuhi oleh pepohonan yang lebat nan hijau jika dilihar dari Jalan Lingkar Samosir.

BS Siallagan warga Desa Martoba selaku pemilik lahan seluas 20 hektar ini mengklaim jika lahan itu memiliki Surat Keterangan Tanah (SKT) dan kayu pinus atas nama abangnya T Siallagan yang diketahui Camat, L Sibarani dan Kepala Desa (Kades), Djaoloan Silalahi tahun 2003.

“Ini disaksikan sebanyak 10 orang,” katanya sembari menunjukan surat itu kepada awak media ketika di sambangi di kediamannya, Kamis (4/3/2021).

Lanjut BS Siallagan, terkait penebangan kayu itu sebelumnya sudah ditinjau pihak Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sumatera Utara Cabang Samosir, Napak Sayupang. Ini termasuk sudah di GPS titik koordinat yang bukan areal kehutanan.

“Kontribusi juga sudah saya berikan pada tahun 2020 atas nama kantor Dishut, bukan Kepala Dinas Kehutanan. Untuk tahun 2021 ini belum ada saya berikan, karena kita tau kan peraturan kehutanan selalu berubah-ubah,” ujarnya.

Lokasi penebangan pohon di lahan seluas 20 hektar.

Diakui, kayu yang ditebangnya diolah dijual untuk kebutuhan pembangunan proyek home stay. Pasalnya, saat ini proyek home stay membutuhkan material dari panglong. Dan kebetulan dirinya juga membuka usaha dagang material.

“Usai ditebang, kami juga menanam kembali bibit pohon mangga, alpokat dan johar buat kebutuhan kapal kayu kedepan jika diperlukan,” ucapnya.

Sementara itu pihak Desa Martoba sesuai informasi dari Sekretaris Desa (Sekdes) mengatakan, tidak pernah memberitahukan kepada pihaknya terkait kegiatan penebangan kayu itu.

Camat Simanindo, Hans Sidabutar juga membenarkan tidak pernah ada melaporkan kegiatan penebangan kayu pinus yang berada di kemiringan di bawah kaki gunung itu.

“Kita menyesalkannya, karena dampak lingkungan ini akan menciptakan bom waktu kurang baik kedepan. Ini berhubung Jalan Lingkar Samosir satu-satunya akses jalan yang dilalui masyarakat maupun tamu yang datang ke Samosir,” paparnya. (Tua)