Poldasu Ungkap Pembalakan Liar di Hutan Sitahoan yang Dibekingi Oknum Aparat  

Para pelaku penebangan liar di Hutan Sitahoan.

Simalungun, Lintangnews.com | Direktorat Reskrim Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) melakukan pengungkapan pembalakan liar (illegal logging) di Hutan Sitahoan, Dusun II, Nagori Sipangan Bolon, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Selasa (20/8/2019) malam.

Sebanyak 8 orang diamankan dari lokasi itu, dimana 2 diantaranya wanita, berikut alat berat dan gelondongan kayu.

Awalnya petugas menerima informasi adanya pembalakan hutan milik negara di lokasi. Termasuk menjadi atensi beberapa pihak terkait, lantaran sering menjadi bahan pemberitaan yang mencuat ke media.

“Kita tidak mau kecolongan lagi. Begitu mendapat informasi, kita turun dan melakukan penyergapan,” ucap salah seorang petugas di lokasi penangkapan.

Dia menuturkan, pihaknya sudah memantau aktifitas pelaku pembalakan sejak Selasa (20/8/2019) pagi. Untuk memastikan areal penebangan adalah hutan milik negara, petugas juga menghimpun informasi akurat. Akhirnya 5 orang petugas pada Selasa malam masuk ke lokasi dan menangkap pelaku illegal logging.

Petugas juga mengamankan 1 unit truk logging berisi kayu balok jenis pinus, 1 unit derek, singsow dan mobil pribadi Honda DRV warna hitam nomor polisi (nopol) BK 1184 WB.

Informasi lain diperoleh, pelaku pembalakan memulai aktifitasnya pada Senin (19/8/2019). Penuturan sejumlah warga, jika suara singsow menebangi kayu dan menggunakan alat berat itu sudah berlangsung sehari sebelum penangkapan.

“Kami saja tidak tau kalau mereka sudah dipantau polisi mereka itu. Memang lokasi itu termasuk hutan,” ucap marga Sinaga, salah seorang warga setempat.

Kayu pinus yang ditebang dari Hutan Sitahoan.

Warga menyebutkan, usai menebang pohon pinus yang rata-rata rata berdiameter 80 centimeter, pelaku kemudian memotong dengan panjang 2 meter 20 centimeter. Kepada warga yang sempat mendatangi pelaku menyatakan, kayu gelondongan akan dijual ke Kota Siantar, tepatnya di Jalan Medan.

“Menjualnya ke tempat biasa jual pinus di Jalan Medan, sudah biasa kok bosnya (inisial MP) jualnya kesana. Kami turun juga sempat menanyakan surat-suratnya, kata bos itu suratnya lengkap,” kata warga menirukan ucapan pelaku penebangan.

Ditambahkan warga, pelaku mengaku warga Beringin, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun.

Warga menuturkan, jika Senin kemari, aparat desa sudah melayangkan teguran kepada pelaku penebangan. Namun pelaku, mengaku disuruh bosnya berinisial MP dan telah membeli lahan di tempat mereka melakukan penebangan.

“Katanya tanah itu mempunyai surat. Sepengetahuan saya, itu hutan,” kata Reno selaku Gamot Dusun II.

Aksi pelaku terindikasi dibekingi oknum aparat untuk memuluskan rencananya. Informasinya, alat yang dipakai juga milik aparat yang disewa pelaku untuk digunakan. Sementara hasil penebangan dikabarkan dibawa ke Siantar, tepat di sawmil (tempat pengolahan kayu) di sekitaran Jalan Sisingamangaraja.

Amatan di lokasi penangkapan, tempatnya persis berada di samping bekas sawmill milik penguasaha asal Siantar berinisial SN. Kemudian disebutkan SN menjualnya kepada SR. Selanjutnya SR menjual kayu kepada MP, karena di sekitar sawmil berdiri tegak puluhan batang pohon pinus dengan panjang rata-rata sekitar 40 meter.

Hingga Rabu (21/8/2019) sore, tim Poldasu bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Siantar, turun ke lokasi melakukan cek tungkul pohon yang ditebang pelaku. Hasilnya, dipastikan lokasi itu hutan milik negara. (red)