Proyek Pengaspalan Senilai Rp 4 M di Tinggi Raja Diduga Asal-asalan, Warga Kecewa

Asahan, Lintangnews.com | Proyek pengaspalan jalan di Dusun III Desa Padang Sari, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, diduga asal-asalan.

Meski nilai kontraknya sebesar sekitar Rp 4 miliar, namun setelah selesai masyarakat bukannya berterimakasih. Proyek itu malah mendapat protes dari warga sekitar.

“Kami sebelumnya berterima kasih atas pembangunan ini, tetapi juga menolak hasilnya. Sebab selama proses pengerjaannya hingga selesai kami melihat banyak kecurangan-kecurangan dilakukan pihak rekanan,” cecar salah seorang warga setempat, Surianto, Senin (9/9/2019).

Ini mulai dikerjakan saat hujan, ditambah lagi awal pengerjaan tanpa pengawasan. Ada sepanjang 600 meter tidak diberi base sepenuhnya hanya diberi pinggirannya saja.

“Sudah begitu terlihat lagi hotmix nya turun dari truk bercampur air. Bagaimana lah mau bagus hasil hotmix nya kalau kerja nya seperti itu,” cecarnya lebih lanjut.

Bahkan baru berapa hari, sudah terlihat pada permukaan jalan kasar menonjol muncul batu-batu kecil kerikil dan ketebalannya pun sangat tipis.

“Kami menduga pengerjaan asal-asalan yang penting siap tidak memikirkan kualitasnya. Untuk itu, kami meminta kepada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Asahan agar turun meninjau hasil pengerjaan. Sebab biaya anggaran sebesar itu masa hasilnya seperti ini. Kami sangat kecewa,” ungkap Surianto.

Menanggapai hal itu Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara RI (LI-TPK AN RI), Andika Bagariang mengatakan,pihaknya akan segera menindak lanjuti dan segera membuat laporan resmi ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu).

LI-TPK AN RI menduga, proyek peningkatan jalan dari Simpang Bow menuju Pulahan itu tidak sesuai dengan Rancangan Anggaran Biaya (RAB). Juga diduga telah merugikan negara ratusan juta rupiah dengan mengurangi volume ukuran dan kecepatan mobilisasi.

“Tidak hanya itu saja, ada kefatalan yang kami temui sepanjang 600 meter pengerjaan hotmix dilakukan pada saat hujan. Itu sangat fatal untuk kualitas dalam pengerjaan hotmix,” ungkap Andika Bagariang.

Sementara itu Pejabat Pengelola Informasi Dokumentasi (PPID) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Fahmi Al Madani, ketika dikonfirmasi mengaku belum tau.

“Saya kan belum tau kondisinya disana seperti apa, disitu kan juga ada konsultan dan pengawasnya saat itu,” ujarnya melalui via telepon seluler.

“Saya konfirmasi dulu sama yang bersangkutan kenapa bisa dikerjakan saat hujan. Jadi saya belum bisa menjawab sekarang, terima kasih informasinya,” sambungnya mengakhiri. (Handoko)