Proyek Pengerjaan Bronjong dan TPT di Tinggi Raja Asahan Diduga Asal Jadi

Tampak TPT yang renggang. (Handoko/LN)

Asahan, Lintangnews.com | Proses pengerjaan pemasangan bronjong dan Tembok Penahan Tanah (TPT) di Desa Terusan Tengah, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan diduga asal jadi.

Pekerjaan yang sudah berjalan 4 hari mulai terlihat proses pengerjaannya itu diduga tidak sesuai Rancangan Anggaran Biaya (RAB) maupun besteknya. Hal ini terlihat dari pemasangan bronjong yang menggunakan batu padas dan kualitasnya terkesan kurang bagus.

Batu padas yang digunakan, sebelum diikat untuk bronjong sudah banyak pecah dan hancur. Sehingga terlihat para pekerja kesusahan memasukan batu ke kawat untuk bronjong. Ditambah lagi kawat untuk pengikat batu bronjong juga kawat yang kualitasnya kelihatan rendah.

Begitu juga untuk proses pengerjaan TPT nya, banyak digunakan batu padas yang jelek. Sehingga batu padas yang dibuat TPT banyak yang pecah-pecah. Seperti diketahui dari papan plang proyek pekerjaan itu dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Asahan.

Nama kegiatannya adalah lanjutan pembangunan bronjong dan TPT Danau Teratai Desa Terusan Tengah yang anggarannya sebesar Rp 395.500.000 ditampung di APBD Tahun Anggaran (TA) 2019. Proyek tersebut dikerjakan CV Ambok.

Hal itu menimbulkan tanda tanya bagi warga sekitar pengerjaan proyek. “Bagaimana bisa bertahan lama TPT ini kalau pengerjaan awalnya saja sudah seperti itu. Lihat lah campurannya lebih banyak pasirnya dari pada semennya,” ujar warga setempat, A Sirait, pada Selasa (27/8/2019).

Menurutnya, terlihat pemasangan TPT nya asal-asalan yang penting menempel. Selain itu, tahap pengerjaannya saja sudah tidak layak, sehingga kualitasnya pasti pun tidak bisa bertahan lama. Banyak bagian batu padas pada TPT yang terlihat kosong tidak diberikan semen, sehingga terlihat bercelah pada batu tersebut.

“Kalau melihat pekerjaan saat ini, bakal tidak kuat nantinya menahan tanah bagian yang dipasang TPT. Belum lagi untuk bronjongnya. Nanti kalau sudah siap banyak lepas batunya dari ikatannya, karena batunya dan kawat yang digunakan kurang bagus,” cecar Sirait.

Sementara itu salah satu pekerja ketika ditanyakan, berapa volume bronjong dan TPT, justru mengatakan tidak tau. “Kalau masalah batunya itu datang kemari ya itu digunakan, kami hanya pekerja,” ucapnya.

“Untuk rincian pekerjaan semuanya kami tidak tau, yang tau itu pihak rekanan. Kami hanya mengikuti apa yang dibilang rekanan,” sambungnya mengakhiri. (Handoko)