Sarat Penyimpangan, UPT PI Bah Bolon Didesak Tinjau Ulang Proyek Irigasi Bah Tongguran

Ketua Karang Taruna Kecamatan Tanah Jawa, Sanggam Manik dan lokasi proyek jaringan irigasi di Bah Tongguran I.

Simalungun, Lintangnews.com | Sarat penyimpangan dari petunjuk pelaksanaan (juklak) maupun petunjuk teknis (juknis), UPT Pengelolaan Irigasi (PI) Bah Bolon berkedudukan di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar didesak meninjau ulang realisasi proyek jaringan irigasi di Bah Tongguran I, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Desakan itu disampaikan Ketua Karang Taruna Kecamatan Tanah Jawa, Sanggam Manik, Rabu (8/7/2020) kemarin, dengan mengundang sejumlah media cetak dan elektronik ke salah satu titik kegiatan, yakni di Bondar Sakban Nagori Muara Mulia, Kecamatan Tanah Jawa.

Menurut Sanggam sebelum ke lokasi. Proyek jaringan irigasi milik UPT PI Bah Bolon itu sarat kejanggalan. Hal itu sesuai fakta di lapangan. Proyek unit price dari dana loan yang dikerjakan CV Worsip cukup memajangkan 1 buah papan proyek. Sementara lokasi proyek itu ada di beberapa Nagori dan jaraknya jauh.

“Pelaksana proyek itu dalam memasang pondasi saluran irigasi menggunakan adonan semen pasir kering sebagai perekat batu cadas pecah. Dan tidak menggunakan alat dalam pemadatan, tetapi memakai jari tangan pekerja,” ungkapnya.

Dikatakan Sanggam, hasil konsultasi Karang Taruna Tanah Jawa dengan seseorang konsulkan konstruksi, jika pengerjaan pondasi batu kali sharusnya memakai bowplang dan pasir uruk sebagai drainase meresap air. Sehingga dasar galian menjadi kering dan realisasi proyek menjadi berkualitas.

Namun fakta di lapangan, di beberapa titik dan Nagori lokasi proyek seperti di Kampung Jawa Nagori Tanjung Pasir dan Nagori Muara Mulia Kecamatan Tanah Jawa, keharusan itu justru terabaikan. Dan pihak penyelenggara kegiatan bernilai miliaran dana loan APBD Pemprovsu tersebut terkesan tutup mata.

Ironisnya, salah seorang pegawai dari UPT PI Bah Bolon mengaku bermarga Nainggolan saat di lokasi mengatakan, kehadirannya untuk melakukan pengawasan. Anehnya dia mengaku, tidak memiliki gambar kerja sebagai acuan dalam pengawasan.Justru gambar kerja itu ada pada Sahat Sinaga.

“Au pengawas do, dang adong mamboan gambar. Gambar na adong ijama si Sahat (Saya pengawasnya dan tidak ada membawa gambarnya. Gambarnya ada dipegang si Sahat). Anggo kedalaman pondasi 40cm. Lebar na 35cm (Kalau kedalaman pondasinya 40cm. Lebarnya 35cm),” terangnya dalam bahasa Batak.

Pantauan di lokasi, para pekerja melakukan pemadatan adonan campuran semen pasir sebagai perekat antara susunan batu padas pecah menggunakan jari tangan alias tanpa alat kerja seperti sendok pasang dan besi panjang dalam pemadatan. Bahkan tidak dipasangi bowplang.

Selain itu, para pekerja dalam memasang batu padas pecah didominasi posisi tegak lurus. Dan volume pecah batu padasnya bervariasi dari 5 hingga 25cm. Ini diperparah lagi tidak memakai alat pelindung diri di tengah-tengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) seperti masker dan alat pelindung mata. (Zai)