Selama 5 Tahun Dinkes Asahan Berhasil Tekan Angka Kasus Gizi Buruk 

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Siti Rosyantio saat memberi penjelasan dan isi buku dalam 1.000 HPK.

Asahan, Lintangnews.com | Selama 5 tahun ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Asahan mencatat sedikitnya ada 568 balita mengalami gizi buruk, sehingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) harus diperhatikan untuk kesehatan dan kecerdasan anak.

Kadis Kesehatan, Aris melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Siti Rosyantio menjelaskan, 5 tahun ini pihaknya telah berhasil menekan angka penderita balita yang mengalami gizi buruk.

Berdasarkan data mulai tahun 2014 tercatat 96 kasus. Kemudian tahun 2015 meningkat menjadi 117 kasus. Selanjutnya tahun 2016 meningkat menjadi 136 kasus. Namun tahun 2017 menurun sedikit menjadi 132 kasus dan pada 2018 ditekan drastis menjadi 87 kasus.

“Dengan berbagai program kesehatan seperti kelas ibu hamil yang diadakan setiap desa dan dilakukan sebulan sekali. Alhamdulillah perlahan ibu-ibu memahami perawatan anak dan angka penderita gizi buruk juga bisa ditekan,” ujar Siti kepada lintangnews.com, Jumat (1/3/2019).

Ini juga berdampak juga dengan angka kematian ibu dan anak saat bersalin. Untuk bayi, selama 5 tahun tercatat 306 anak yang meninggal. Mulai tahun 2014 tercatat 118 kasus, kemudian 2015 menurun menjadi 100 kasus. Selanjutnya tahun 2016 berkurang menjadi 44 kasus, sementara 2017 ada 28 kasus dan 2018 terus ditekan menjadi 16 kasus. Sedangkan untuk ibu selama tahun 2014-2018 tercatat ada 80 kasus.

“Adanya Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyelamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir, aangka kematian ibu dan anak saat bersalin bisa terus ditekan,” ungkap  Siti.

Dia juga mengatakan, untuk menjaga kesehatan, maka para ibu dan orang tua harus memperhatikan 1.000 HPK, mulia dari kandungan hingga anak usia 2 tahun. Karena pada masa itu pembentukan sel jaringan otak sedang berjalan sebanyak 70 persen.

Lalu pada masa itu sangat penting dalam menjaga pola hidup ibu dan anaknya, dengan mengkonsumsi makan bergizi seimbang. Bila anak selama 1.000 HPK mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan, setelah itu mendapat makanan pendamping yang bernutrisi dan bergizi berimbang, maka anak akan tumbuh sehat dan cerdas.

“Apaila dalam masa itu (1.000 HPK) anak mengalami gizi buruk, karena tidak mendapatkan gizi yang baik dan ASI eksklusif, bisa mengakibatkan jaringan otaknya tidak terbentuk dengan baik. Dan itu bisa berpengaruh dengan kecerdasan anak ke depan,” jelas Siti.

Lanjutnya, diharapkan para orang tua harus bisa lebih memperhatikan anaknya terutama pada 1.000 HPK, sehingga anak bisa tumbuh dengan baik. Karena di setiap Desa atau Kelurahan sudah disediakan kelas ibu hamil dengan bidan yang berpengalaman untuk berkonsultasi.

“Hal ini harus kita perhatikan, sehingga anak-anak yang lahir bisa tumbuh sehat dan cerdas sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan setiap orang tua,” ujar Siti mengakhiri. (heru)