Semangat Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19

David Simamora.

Oleh : David Simamora

Berbagai negara di dunia, tengah dikejutkan dengan wabah penyakit yang disebabkan oleh virus bernama corona atau lebih dikenal dengan istilah Covid-19 (Corona Virus Diseases-19).

Semua negara berperang melawan virus yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Sebab Covid-19 tidak mengenal batas negara, status sosial, agama, suku bangsa dan jabatan.

Virus ini awalnya mulai berkembang di Wuhan, China. Wabah virus ini memang penularannya sangat cepat menyebar ke berbagai negara di dunia. Sehingga oleh World Health Organization (WHO), menyatakan wabah penyebaran virus covid-19 sebagai pandemi dunia saat ini.

Hingga saat ini kondisi penyebaran Covid-19 di Indonesia sendiri sangat memprihatinkan. Sekitar 1,28 juta kasus positif terinfeksi, dengan angka kematian 34.489 orang. Sementara, untuk pasien yang sembuh telah mencapai 1.09 juta orang. Data tersebut kemungkinan akan terus meningkat.

Dunia pendidikan merupakan salah satu dari sekian banyak ranah yang terkena imbas dari pandemi ini. Sudah menginjak 3 bulan, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan pembatasan terhadap aktivitas pada sebagian besar ranah kehidupan, baik sosial, ekonomi, budaya, serta ranah kehidupan lainnya. Kebijakan yang diambil merupakan langkah antisipatif dan strategis untuk menekan semakin menjadi-jadinya penyebaran Covid-19.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam keseharian individu dan aktivitas masyarakat, membawa dampak perubahan yang luar biasa untuk semua bidang. Salah satunya bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keharusan. Sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah pun harus melakukan pembelajaran dari rumah.

Dampak ini juga dirasakan masyarakat dunia. Hal ini telah diakui oleh organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada Kamis (5/3), bahwa wabah Covid-19 telah berdampak terhadap sektor pendidikan. Hampir 300 juta siswa-siswi terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan.

Mengingat dunia pendidikan merupakan hal yang sangat penting selain tempat pembentukan manusia sebuah bangsa, dunia pendidikan juga melalui sekolah- sekolah merupakan tempat berkumpulnya individu yang dianggap sangat rentan terhadap penyebaran Covid-19. Sehingga pemerintahan melakukan berbagai upaya untuk memutus rantai penyebaran Virus Corona.

Salah satu kebijakan darurat yang diterapkan pemerintah Indonesia adalah dengan mengeluarkan arahan untuk merubah sistem pembelajaran di semua instansi pendidikan baik sekolah dasar, menengah, atas maupun perguruan tinggi. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online/ daring dari rumah sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Tanpa disadari, wabah Covid-19 yang tengah melanda penduduk dunia sepertinya akan membawa kita pada satu era baru dalam dunia pendidikan. Melakukan kegiatan belajar mengajar di tengah mewabahnya virus itu saat ini membuat semua stakeholder harus bergerak cepat dalam menyusun perencanaan pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan.

Begitu pun juga guru dan dosen di tingkat pelaksana dituntut untuk beradaptasi melakukan kegiatan pembelajaran yang sesuai agar pendidikan tidak mati dalam masa pandemi.

Pemerintah meniadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kampus. Ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Pendidik dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran.

Arahan dimaksud berakibat pada penutupan gedung sekolah dan perkuliahan, dimana para pelajar tidak boleh lagi datang ke sekolah untuk belajar dan bermain dengan teman sekolahnya. mereka diwajibkan untuk tetap tinggal di rumah dan melakukan pembelajaran secara mandiri di tengah keluarga masing-masing.

Keceriaan di sekolah yang ditandai dengan aksi lucu dan canda tawa anak-anak yang biasanya bergema seketika lenyap disapu keganasan wabah Covid-19.

Para orang tua yang biasanya menyerahkan pendidikan anak-anak mereka pada para guru di sekolah, mendadak harus menjadi teman belajar bagi buah hati mereka. Bahkan para pelajar kelas 6, 9 dan 12 tidak bisa menghadapi ujian nasional. Ujian nasional tahun ini pun ditiadakan.

Kecemasan terpancar dan kepanikan melanda, Kita khawatir, bisakah wabah ini dihilangkan dalam waktu singkat. Kita juga berharap-harap cemas, mungkinkah proses pendidikan serta penyelenggara pendidikan kita mampu bertahan dalam waktu yang tidak pasti untuk menghadapi serangan Covid-19 ini.

Dalam ketidakpastian serta ditengah-tengah kebijakan pembatasan sosial (social distance) di Indonesia yang mengharuskan para siswa hingga mahasiswa untuk tidak datang ke sekolah dan kampus tidak menyurutkan semangat belajar mengajar dalam dunia pendidikan, tenaga pendidik sebagai garda terdepan dalam proses pendidikan mencari cara lain dalam mengatasi masalah ini.

Kondisi saat ini memaksa semua pihak beradaptasi dengan keadaan, Para guru memberikan tugas pelajaran pada siswa melalui grup-grup media sosial yang bisa diakses dengan ponsel pintar. Perkuliahan tatap muka beralih kepada perkuliahan dengan model webinar atau layanan tutorial berbasis internet atau web based tutorial (WBT), dan diikuti oleh mahasiswa melalui jaringan internet yang kesemuanya itu adalah upaya melanjutkan proses pendidikan agar tidak terhenti sebagai dampak dari Covid-19.

Kebijakan ini merubah kebiasaan persekolahan yang ada di Indonesia yang sebelumnya menganut sistem tatap muka dan menggunakan sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Peserta didik cukup berada di rumah masing- masing untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi yang ada baik melalui laptop, gadget, ponsel pintar maupun televisi.

Saya sendiri sebagai seorang pendidik mencoba menggunakan berbagai media pembelajaran jarak jauh untuk mempermudah proses pembelajaran jarak jauh, Sarana yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran online antara lain, aplikasi zoom, google classroom, google form, youtube, maupun media sosial whatsapp. Mungkin sama dengan apa yang dilakukan rekan guru yang lain.

Metode pembelajaranpun beragam, namun metode daring lebih memungkinkan sebab bisa membuat para siswa untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di rumah dengan baik. Seperti halnya membuat konten dengan memanfaatkan barang-barang di sekitar rumah maupun mengerjakan seluruh kegiatan belajar melalui sistem online.

Para guru juga melakukan blended learning yang menggunakan dua pendekatan sekaligus. Dalam artian, metode ini menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video converence. Jadi, meskipun pelajar dan pengajar melakukan pembelajaran dari jarak jauh, keduanya masih bisa berinteraksi satu sama lain.

Di tahun 2021 ini beberapa daerah mulai menerapkan metode luring yaitu model pembelajaran yang dilakukan di luar jaringan. Dilakukan secara tatap muka dengan memperhatikan zonasi dan protokol kesehatan yang berlaku. siswa akan diajar secara bergiliran (shift model) agar menghindari kerumunan. Metode ini sangat pas buat pelajar yang ada di wilayah zona kuning atau hijau terutama dengan protocol ketat new normal.

Sejauh ini meskipun sebahagian besar aktivitas belajar dilakukan dari rumah, namun para siswa tetap bersemangat mengikuti pembelajaran. bahkan, semua kegiatan belajar juga terpantau guru baik itu melalui grup WhatsApp. Tidak hanya itu, semua tugas juga dikirim lewat WhatsApp atau google form dan absen pun juga dikirim melalui group WhatsApp.

Tindakan beradaptasi dengan keadaan ini atau memakai bahasa pemerintah berdamai dengan corona memaksa guru menemukan metode dan model pembelajaran lebih bervariasi yang belum pernah dilakukan oleh pendidik. Misalnya, guru membuat konten video kreatif sebagai bahan pengajaran. Dalam hal ini, guru lebih persuasif karena membuat peserta didik semakin tertarik dengan materi serta dapat memahami apa yang diberikan oleh guru melalui video kreatif tersebut.

Secara tidak langsung guru maupun siswa harus belajar menggunakan serta mengakses teknologi. Sarana-sarana tersebut dapat digunakan secara maksimal, sebagai media dalam melangsungkan pembelajaran seperti di kelas sebab sarana dan prasarana gedung sekolah tidak relavan dalam situasi ini untuk proses pembelajaran.

Dengan menggunakan sistem daring, siswa tetap belajar dan mengasah kemampuan akademik maupun non akademik. Didukung kerja kreatif para guru, siswa tetap memperoleh pendidikan yang tepat meski dalam keterbatasan ruang. Kreativitas guru dalam menyajikan kegiatan belajar terus mendukung perkembangan dan menstimulus kecerdasan siswa. Seperti memberikan tugas sesuai dengan tema belajar yang sedianya sudah dirancang.

Melalui pembelajaran yang kreatif dan terjangkau dengan keadaan di rumah, siswa tetap dapat belajar dengan baik. Meskipun terdapat berbagai kendala, dengan ketelatenan dan kreativitas guru, kendala tidak akan mengurangi inti dari pendidikan tersebut.

Namun pada kenyataannya sebagian siswa di pelosok tanah air tak bisa mengakses informasi melalui ponsel dan televisi. Sehingga tidak semua siswa bisa mengakses informasi tersebut. Beberapa guru pun memutar otak agar para siswanya bisa tetap belajar dari rumah. Salah satunya mereka berbaik hati mendatangi rumah para siswanya satu per satu.

Pada kenyataannya banyak upaya dan tantangan yang dihadapi baik oleh guru dan dosen maupun para pelajar dan mahasiswa bahkan orang tua dalam menjalani metode pembelajaran berbasis daring (online) maupun tatap muka. seperti tidak meratanya infrastruktur pendukung pembelajaran jarak jauh ini seperti listrik, jaringan internet dan kepemilikan gawai di kalangan masyarakat menjadi penghalang untuk melakukan pembelajaran daring hingga ke pelosok negeri.

Hal ini bukan saja dialami siswa di pedalaman namun juga di perkotaan, sebab di perkotaan juga siswa banyak yang mengeluhkan jaringan, alat dan ketidakberdayaan dalam membeli kuota (paket data).

Untuk mengurai permasalahan yang ada, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menginisiasi program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI. Program Belajar dari Rumah mulai tayang di TVRI sejak 13 April 2020, dimulai pukul 08.00. Program ini sebagai bentuk upaya membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan di masa darurat Covid-19. Khususnya membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, secara ekonomi maupun letak geografis.

Banyak kisah-kisah inspiratif yang membuktikan perjuangan guru-guru di Indonesia. Di Sumenep, Avan Fathurrahman, seorang guru SDN Batu Putih Laok, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep menempuh perjalanan sejauh 22 kilometer untuk menemui muridnya. Selama pandemi, dia rela mendatangi rumah muridnya satu per satu sepekan tiga kali. Ia lakukan hal itu karena banyak wali murid tak memiliki ponsel pintar dan televisi untuk mengikuti proses belajar mengajar.

Di Garut, Ujang Setiawan Firdaus, guru kelas V di SDN Purbayani 1 Kecamatan Caringin rela berkeliling dan mendatangi rumah siswa agar para murid bisa tetap belajar seperti biasa di tengah pandemi corona. Ujang mengajar siswa kelas V yang berjumlah 45 orang. Setiap hari, Ujang mendatangi siswa di rumahnya untuk bisa bertemu, mengajar materi pelajaran, dan memberi tugas atas inisiatif sendiri.

Tiga ibu guru di SD Giriharja kemudian berinisiatif mendatangi rumah 8 siswa di pelosok perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Kuningan, tepatnya di Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Ciamis. Untuk menuju ke rumah siswa, para guru ini harus naik turun bukit karena rumah siswa yang cukup jauh dari sekolah. Mereka adalah Yayah Hidayah guru kelas l, Rohaetin (56) guru kelas 2 SD dan Eem Maesaroh (54) guru kelas 4 SD.

Kisah ini mungkin sekelumit gambaran dari jutaan perjuangan guru se- nusantara ini dalam mempertahankan eksistensi pendidikan ditengah badai covid 19. Tanpa kita ketahui dan tidak terekspose media mereka melakukan tugas dan tanggung jawabnya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kondisi, tantangan dan cara yang berbeda- beda.

Pada moment pandemi Covid-19 kita diajak untuk menyadari bahwa terlihat jelas tidak sedikit guru-guru Indonesia memiliki jiwa-jiwa inovatif dan kreatif sehingga mereka mampu mengatasi permasalahan pembelajaran dan pembimbingan yang dihadapinya.

Di tengah minimnya pengalaman melaksanakan pembelajaran dengan moda daring, para guru dengan sangat cepat melakukan pengubahan haluan pola pembelajaran. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa keterpaksaan dapat melahirkan inovasi dan kreatifitas di kalangan guru. Guru benar-benar telah menempatkan diri sebagai agen perubahan.

Di tengah kondisi ini, peran guru menjadi sangat penting. kenyataan tersebut lebih mengukuhkan bahwa sosok guru berada pada posisi sentral pembelajaran dan pendidikan. Pandemi Covid-19, justru termanfaatkan oleh guru untuk lebih aware dalam menggunakan perangkat digital pada pembelajaran yang dilaksanakannya di tengah keterbatasan karena tanpa persiapan matang. Ternyata, keterpaksaan oleh situasi dan kondisi yang berkembang dapat melahirkan inovasi dan kreatifitas di kalangan guru.

Dari tantangan ini kita harus berani berbenah agar menciptakan dunia pendidikan yang sesuai dengan harapan bersama. Pembelajaran di masa Covid-19 seharusnya mendorong siswa agar menjadi lebih kreatif dan mengakses sebanyak mungkin ilmu pengetahuan dan menjadi siswa sebagai pelajar yang luas dan dalam akan keilmuan yang mereka miliki.

Guru atau dosen bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Ini tantangan berat bagi guru, dosen, maupun orang tua. Tak sedikit orangtua pun mengeluhkan media pembelajaran jarak jauh melalui daring (internet) ini. terlebih bagi orangtua yang work from home, harus tetap mendampingi anak-anaknya, khususnya anaknya yang masih usia dini dan sekolah dasar.

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara daring nyatanya tidak lebih mudah dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka. Diluar dugaan orang tua mampu berperan sebagai guru bagi anak-anak mereka. Orang tua yang menjadi mentor dan pendamping di rumah merupakan role model perubahan sikap bagi siswa dalam berperilaku dan menghadapi permasalahan saat ini. Orang tua mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah.

Masa-masa Covid-19 bukan berarti pelajar harus berhenti belajar. Mereka harus tetap melanjutkan studi dengan dukungan penuh dari pemerintah, sekolah dan orang tua. Mungkin banyak kekurangan dan kendala yang kita hadapi bersama, namun dengan bersatu kita dapat kuat menghadapi kondisi ini. Mari kita bersama memajukan generasi bangsa sebab ditangan merekalah masa depan bangsa ini akan diserahkan.

Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap buku adalah ilmu. melalui pendidikan, kita akan melahirkan generasi penerus yang cerdas intelektual maupun emosional, terampil, dan mandiri untuk mencapai pembangunan bangsa ini, Buat pemerintah, guru, dosen, orang tua beserta pelajar, Semangat!