TBC-HIV Care Aisyiyah Latih Fasilitator Desa di 3 Provinsi

Pelatihan Fasilitator Desa yang dilakukan secara daring.

Simalungun, Lintangnews.com | Community TBC-HIV Care Aisyiyah merupakan program penanggulangan Tuberkulosis (TB) berbasis masyarakat yang merupakan bagian dari program Majelis Kesehatan Aisyiyah di bawah pembinaan Pimpinan Pusat Aisyiyah.

Melalui program penanggulangan TB ini, Aisyiyah berupaya berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dan pencapaian target Millineum Development Goals (MDGs) nomor 6, yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular.

Tanggal 15 hingga 19 Juni 2020, PR TBC-HIV Care Aisyiyah melaksanakan pelatihan Fasilitator Desa (Fasdes) secara daring yang diikuti 3 SR TBC HIV-Care Aisyiyah Sumatera Utara, Papua Barat dan Sulawesi Selatan, dengan total peserta berjumlah 107 orang. Dengan rincian, SR TBC-HIV Care Aisyiyah Sumut 63 Orang, Papua Barat 14 orang dan Sulawesi Selatan 26 orang.

Tujuan kegiatan itu melatih para Fasdes yang baru terpilih untuk memahami program PR TBC Aisyiyah, mensosialisasikan panduan intervensi desa, memberikan pengetahuan dan keterampilan terkait informasi tentang penyakit TBC.

Berikutnya, kebijakan penanggulangan TBC, penanggulangan TBC dalam perspektif Islam, informasi isu-isu persoalan yang berkaitan dengan TBC di antaranya gizi, sanitasi lingkungan, dan gender.

Selanjutnya, pendekatan HAM dan gender, teknik penggorganisasian dan pemberdayaan masyarakat, teknik fasilitasi dan komunikasi efektif, teknik advokasi anggaran desa, serta melakukan sinergitas program intervensi desa sebagai Gerakan Aisyiyah Sehat (GRASS) Majelis Kesehatan Aisyiyah.

Koordinator SR Aisyiyah Sumut, Sri Maharani Arfiani berharap, semoga kegiatan yang dilaksanakan bermanfaat bagi tim SR, SSR dan Fasdes yang dilatih. Menurutnya, tujuan TBC -HIV Care Aisyiyah melaksanakan kegiatan kontak investigasi untuk deteksi dini terduga TBC, pendampingan pada penderita agar berobat teratur hingga sembuh, serta mendorong perubahan kebijakan dan penganggaran dalam penanggulangan TBC.

“Kita harapkan Fasdes yang sudah dibentuk di beberapa Desa yang penderita TBC nya cukup tinggi, mampu mengkoordinatori pasien agar mendapatkan pengobatan. Baik itu bantuan dari pemerintah mulai tingkat Desa/Kelurahan hingga Kota,” sebut Sri Maharani, Senin (22/6/2020).

Kepala SR Aisyiyah Sumut, Zubaidah Pohan juga menuturkan, Fasdes yang terpilih agar kiranya mampu dapat membantu penderita TB, yaitu mengidentifikasi persoalan yang dihadapi kelompok terdampak TBC (pasien, keluarga dan penyitas TBC) dalam proses pengobatan, khususnya dalam konteks sosial ekonomi dari kondisi pasien.

“Aisyiyah selaku organisasi yang ikut turun dalam penanggulangan TBC dan pendampingan, Insya Allah akan terus berjuang membantu para pasien. Di Sumut  kita mempunyai 7 SSR yakni, Medan, Deli Serdang, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, Karo dan Langkat. Di SSR masing-masing setiap bulan Insya Allah kita galakkan untuk berbagi nutrisi kepada pasien yang ditangani,” paparnya.

Pemateri pada kegiatan itu di antaranya, Tuti Alawiyah (Program Manager PR TB Aisyiyah), Raden Rara Diah Handayani (Staf Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK UI), Ninik Annisa (Senior Project Koordinator ), Siti Aisyah (Ketua PP Aisyiyah), Yenni Purnama Sari (GM Kesehatan Dompet Dhuafa), Chamamah Soeratno (Ketua PP Aisyiyah), Chairunniasa (Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah), Risang Rimbatmaja (Fasililator/Praktisi Komunikasi Perubahan Perilaku), Ninik Rahayu (Anggota Ombudsman Republik Simalungun), Ahmad Najib Wiyadi (Kepala Sekolah Enterprenur Yogyakarta) dan Badiul Hadi (Manajer Riset Seknas Fitra).

Kegiatan pelatihan yang berjalan selama 5 hari diikuti serius oleh para peserta, dengan alotnya diskusi saat materi disampaikan. (Rel)