Trauma Pengadaan Monografi, Pangulu di Gunung Malela Tolak Pemasangan Jaringan Internet

Dari kiri ke kanan pembaca. Pangulu Nagori Dolok Malela, Surya dan Pangulu Nagori Pamatang Sahkuda, Suwardi.

Simalungun, Lintangnews.com | Sejumlah Pangulu Nagori di Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun menolak melakukan pemasangan jaringan internet kepada pihak ketiga yang diarahkan Pangulu Nagori Pamatang Sahkuda, Suwardi.

Ini karena merasa trauma dengan persoalan pengadaan papan monografi bersumber dari dana desa Tahun Anggaran (TA) 2017 silam.

“Memang ada, Suwardi yang mewakili kala itu. Kata dia ke kami (Pangulu) 11 Nagori di Kecamatan Gunung Malela. Ini ada yang mau memasang jaringan internet. Bagaimana jika kita adakan pertemuan dengan pihak perusahaan. Jadi banyak kawan-kawan termasuk saya mengatakan, pak ini kan masih suasana pandemi Covid-19 atau Virus Corona,” terang Pangulu Nagori Serapuh, Mario.

Hal itu diterangkannya kemarin, persisnya di sebuah warung kopi di Nagori Sahkuda Bayu. Menurut Mario, hal itu dibeberkan guna menyebelahi persoalan yang dialami sahabatnya, Pangulu Nagori Dolok Malela, Surya. Dan pertemuan itu dijembatani Pangulu Nagori Sahkuda Bayu, Kecamatan Gunung Malela, Suyatno.

Dikatakan Mario, karena sibuk, para Pangulu menyampaikan kepada Suwardi agar wacananya mempertemukan dengan pihak ketiga pemasangan jaringan internet dimaksud dipending atau ditunda.

“Kita sibuk. Kalau bisa dipending aja. Jadi mungkin kawan-kawan yang lain gak bisa hadir dalam pertemuan,” duganya.

Selanjutnya ada pertemuan kedua, sambung Mario. “Kalau gak salah, itu pun di kondisi yang sama. Gak tau dimana diadakan. Kepada kawan-kawan, Suwardi bilang, bahwa pihak perusahaan mau ketemu sama kita. Karena sudah 2 kali dishare di grup gak ada direspon, kemungkinan Suwardi mengambil sikap atau kesimpulan diam itu oke,” imbuhnya.

Tanpa sepengetahuan Surya, pihak rekanan yang diarahkan Suwardi langsung memasang tower jaringan internet, persis di seputaran kantor Pangulu Dolok Malela.

Ini membuat Surya berang dan bingung. Lalu menegur 3 orang anak-anak saat memasang tower untuk menghentikan pemasangannya

“Makanya pihak ketiga datang ke tempat Surya dan dia kaget. Lho ini gak ada apa, dan belum ketemu dengan pihak perusahaan kok sudah berdiri. Lalu Surya melarang pekerja yang mengaku warga Karang Sari agar menghentikan pemasangan. Sempat satu stik dipasang. Kemudian Surya menelepon Pak Nano selaku Koordinator Pangulu Kecamatan,” tukasnya.

Sementara Surya tidak membantah apa yang diterangkan oleh sahabatnya, Mario. “Itu lah kejadian sebenarnya. Kalau terkait anggota DPR-RI, Muhammad Nasir mengetahuinya. Saya tidak memberitahukan. Mengenalnya saja saya malas. Saya tau dia (Nasir) karena kandang ternak lembunya ada di Nagori saya,” ucap Surya.

Disinggung apa yang telah dilakukan Suwardi, sementara Suyatno selaku Pangulu Sahkuda Bayu yang juga Koordinator Pangulu se Kecamatan Gunung Malela memberikan tanggapannya.

“Mungkin dia (Suwardi) bisa menjambatani. Karena saya memang gak open untuk pemasangan jaringan internet. Dan kawan kawan masih trauma pengadaan papan monografi,” tukasnya.

Diketahui pengadaan papan monografi dari dana desa Kabupaten Simalungun TA 2017 silam diduga dimonopoli pihak rekanan Dinas Pemberdayaan Maujana dan Pemerintahan Nagori (PMPN) yang kala itu masih Badan Pemberdayaan Maujana dan Pemerintahan Nagori (BPMPN). Dan sudah diproses Unit Tipikor Polres Simalungun.

Karena proses perealisasinya tidak sesuai dengan perundang-undangan maupun peraturan lainnya.
Kepala Inspektorat Kabupaten Simalungun saat itu, Frans Saragih mengatakan telah terjadi mark up harga sebesar 100 persen lebih yang dilakukan 168 orang Pangulu dan membenarkan persoalan telah diproses hukum.

Frans juga mengatakan, sudah memberi waktu kepada para Pangulu untuk melakukan pengembalian ke kas Nagori.

Dan apabila tidak dilakukan pengembalian, maka akan diproses tindak pidananya. Karena harga yang dikeluarkan para Pangulu tidak sesuai dengan harga survei bahan yang katanya didapatkan dari pihak rekanan di 168 Nagori. (Zai)