Wali Kota Pekanbaru, Guru, Orang Tua dan Siswa Menyikapi Virus Corona

David Simamora.

Oleh: David Simamora

Wali Kota Pekanbaru, Firdaus mengambil langkah antisipasi dengan mengintruksikan seluruh sekolah tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka selama 14 hari, mulai tanggal 16- 29 Maret 2020. Menyusul merebaknya Virus Corona atau Covid-19 di beberapa daerah di Indonesia yang telah mencapai 134 orang per Senin (16/3/2020).

Pemko Pekanbaru  memberlakukan penghentian aktivitas pendidikan di sekolah dengan meliburkan sekolah-sekolah selama 2 pekan mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga SMP. Sedangkan untuk SMA sederajat merupakan kewenangan Pemprov Riau.

Sekolah mengalihkan sistem belajar dari tatap muka ke belajar dengan sistem e- learning. Para siswa-siswi diminta melanjutkan belajarnya di rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerumunan yang memungkinkan kontak antara banyak orang. Tujuannya, menekan laju penyebaran Virus Corona.

Dari pernyataan Wali Kota Pekanbaru dapat dipahami bahwa selama diliburkan dalam kurun waktu 14 hari, sekolah dan guru terus memonitor perkembangan belajar siswa, termasuk memanfaatkan sarana pengajaran jarak jauh maupun penugasan-penugasan yang bisa dilakukan daring.

Dalam penerapannya ada beberapa tantangan terbesar dari kebijakan ini, seperti kreatifitas guru dalam kegiatan belajar-mengajar melalui jarak jauh sehingga pembelajaran yang dilakukan harus sama efektifnya dengan pembelajaran tatap muka.

Kita harus menyadari meski meminimalisasi potensi penyebaran, belajar di rumah juga ada dampak negatifnya. belajar di rumah dengan guru memberikan tugas secara online tidak begitu efektif sebab komunikasi juga jadi hanya satu arah.

Tantangan selanjutnya belum meratanya masyarakat kita yang melek terhadap teknologi, sebab tidak semua orang tua siswa memiliki fasilitas handphone berbasis android atau komputer yang dapat mengakses setiap pembelajaran yang dberikan oleh guru. Hal senada juga berlaku bagi peserta didik yang kurang memiliki akses terhadap teknologi dan internet.

Tentunya media komunikasi lain tidak menutup kemungkinan dimnfaatkan sebagai media komunikasi antara guru, siswa dan orang tua. Belajar mandiri melalui berbagai buku pelajaran dan lembar kerja siswa dapat dilakukan dirumah dengan bimbingan orang tua. Bahkan hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah memberikan pekerjaan rumah kepada peserta didik dan diserahkan saat kelas tatap muka kembali digelar.

Masyarakat harus menyadari pemerintah dan guru di sekolah tidak serta merta meliburkan para siswanya, melainnya harus melangsungkan proses belajar jarak jauh, seperti memberi tugas atau sebagainya. Sehingga Keberadaan grup komunikasi antara guru dengan orang tua siswa mempermudah guru mengirimkan materi ajar berbasis teks, suara maupun video kepada siswa. Demikian pula para siswa bisa berdiskusi dengan guru.

Siswa bisa tetap belajar secara daring, guru bisa tetap memberikan pendampingan dalam proses belajar siswa, dan orang tua bisa memonitor perkembangan belajar anaknya. Semua itu bisa dilakukan dengan solusi pendidikan berbasis teknologi.

Saat ini sarana belajar secara daring terbuka,Kementerian Pendidikan sudah memfasilitasi melalui portal rumah belajar secara gratis Beberapa fitur unggulan yang dapat diakses oleh peserta didik dan guru, di antaranya Sumber Belajar, Kelas Digital, Laboratorium Maya dan Bank Soal.

Mendikbud juga mengatakan, saat ini kerja sama penyelenggaraan pembelajaran secara daring dilakukan dengan berbagai pihak. Beberapa pihak yang fokus mengembangkan sistem pendidikan secara daring antara lain Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu dan Zenius.

Namun apakah upaya proses belajar jarak jauh selama 14 hari ini efektif untuk mencegah penyebaran virus corona. Apakah digunakan untuk diam di rumah atau di lingkungan sekitar tanpa berinteraksi dengan orang banyak.

Menurut saya, alasan utama dari kegiatan belajar jarak jauh ini justru harus dibarengi sosialisasi agar pesan yang disampaikan dapat ditangkap dengan baik oleh masyarakat agar tidak disalahartikan. Mestinya tidak hanya meliburkan sekolah saja, tapi ada imbauan keras untuk tidak keluar rumah jika tidak karena hal yang dinilai penting.

Keputusan untuk menghentikan aktivitas belajar mengajar di sekolah merupakan upaya untuk mencegah siswa untuk tidak tertular wabah Covid-19 masa  yang masa inkubasinya selama 14 hari. Jangan sampai situasi ini malah dimanfaatkan untuk kegiatan di luar rumah seperti ke mall, pusat hiburan, mengunjungi arena permainan, tempat wisata maupun mengunjungi tempat- tempat keramaian lainnya yang rentan menjadi tempat penularan Covid-19.

Kita semua tidak menginginkan adanya kebijakan ini justru menambah potensi penularan lantaran siswa maupun tetap keluar rumah untuk sekadar jalan-jalan dan berkumpul. Kebijakan belajar di rumah harus benar-benar dilakukan dan dimanfaatkan baik.

Belajar jarak jauh di rumah berarti orang tua atau pengasuh memiliki peran penting untuk memantau kegiatan anak di rumah selama sekolah diliburkan. Mari kita buat suasana yang nyaman untuk bekerja dan belajar di rumah sebab anak akan merasa lebih adil dan terpacu untuk belajar ketika orang tua juga ikut bekerja bersama.

Sebagai orang tua selayaknya memberikan informasi akurat dan tidak membuat anggota keluarga, khususnya anak panik berlebihan yang berujung takut. Salah satunya, memberi tahu untuk menghindari interaksi dengan orang banyak dan mengisolasasi diri, disamping itu orang tua harus benar-benar memperhatikan pola makan, gizi, untuk memastikan daya tahan tubuh siswa terjaga dan dalam kondisi sehat.

Dengan libur yang diberikan pemerintah, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh setiap masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga, Orang tua siswa diharapkan bisa menjadi “guru” yang mengisi kegiatan anak-anak. Pendidikan tidak boleh berhenti meski dihadang bertriliun-triliun Virus Corona. Tidak berangkat ke sekolah bukan berarti tidak belajar di rumah.