Taput, Lintangnews.com | Proyek diduga mangkrak yang akan dibuat menjadi lokasi pengeringan jagung di Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), dengan sumber dana dari CSR PT InalumĀ kurang lebih Rp 200 juta dipertanyakan keberlanjutannya oleh warga sekitar.
Hal itu dikatakan H Situmeang saat ditemui media di sekitar lokasi proyek, Rabu (6/1/2021). Dia menjelaskan, tahun 2020 dan 2019 di tanah milik Pemkab Taput itu ada proyek yang di dalamnya tergabung Perusda Pertanian dan DEL Tobasa sibuk untuk menjadikan tempat itu menjadi lokasi pengeringan jagung. Ini karena ada sumber air panas di lokasi dimaksud.
“Tetapi entah kenapa penyebab proyek pengeringan jagung itu tidak berlanjut hingga saat ini. Harapan kami, pihak Pemkab Taput harus terus terang kepada warga sekitar. Karena kami nantinya akan berupaya mengelola tempat itu menjadi objek wisata, kalau memang Pemkab Taput tidak mau lagi melanjutkan proyek tersebut. Dan memberikan ijin kepada kami warga sekitar untuk mengelolanya,” tegas Situmeang.
Direktur Perusda Taput, Jan Pieter Lumbantoruan saat dikonfirmasi justru mengatakan, yang tau menahu akan kondisi dan persoalan kenapa proyek itu tidak ada tindak lanjutnya lagi, agar ditanyakan langsung pada Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Taput, Fajar Maningsing Gultom.
Sementara Fajar dihubungi melalui sambungan telepon seluler menuturkan, kondisinya saat ini masih kurang sehat dan sedang dirawat di Rumah Sakit (RS), karena baru melakukan operasi.
Bupati Taput, Nikson Nababan mengaku, belum mengetahui informasi proyek yang bersumber dari dana CSR yang dikerjakan salah satu rekanan DEL itu mangkrak.
“Nanti saya akan coba tanyakan kepada Perusda Pertanian, Kabag Ekon dan Sekretaris Daerah (Sekda) Taput,” ungkapnya.
Terpisah, Sekda, Indra Simare-mare mengaku, belum tau dimana lokasinya dan apa saja aktifitas sebelumnya yang sudah dikerjakan.
“Jadi alangkah baiknya nanti kita tunggu saja dulu keterangan dari Kabag Ekon, karena berhubung dia masih dalam kondisi sakit,” bebernya. (Pembela)


