YRCM Dorong Pendidikan Inklusif Lewat Program Kemah: Bangun Kemandirian dan Empati Anak Difabel

Lintangnews.com – Upaya membangun pendidikan inklusif sejak dini terus dilakukan Yayasan Rumah Ceria Medan (YRCM) melalui Program Kemah Inklusif, sebuah kegiatan luar ruang yang dirancang untuk menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri, serta empati anak terhadap teman-teman difabel.

YRCM berdiri sejak 2019 atas prakarsa Yuli Yanika (Uye) bersama Risa Riskayanti, yang hingga kini berkomitmen memperjuangkan hak pendidikan anak-anak disabilitas dan anak-anak kurang mampu di Kota Medan.

Perlindungan Hukum bagi Anak Disabilitas

Pelaksanaan program ini juga sejalan dengan kewajiban negara dalam memberikan perlindungan kepada anak disabilitas sebagaimana diatur dalam:

1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas

UU ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas berhak:

memperoleh pendidikan yang bermutu pada semua jalur, jenis, dan jenjang

mendapatkan akomodasi yang layak dalam proses pembelajaran

memperoleh perlindungan dari diskriminasi serta perlakuan tidak manusiawi

Pasal 42 UU 8/2016 secara tegas menyebutkan bahwa anak penyandang disabilitas berhak mendapatkan pendidikan yang inklusif dan aksesibilitas pendidikan tanpa hambatan.

2. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

UU ini memastikan bahwa setiap anak, termasuk anak disabilitas, berhak atas:

perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan penelantaran

pengembangan diri, kecerdasan, dan potensi sesuai bakat minatnya

pendidikan dan layanan khusus bagi anak yang memerlukan perlindungan tambahan

Pasal 59A menyatakan pemerintah berkewajiban memberikan perlakuan khusus dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak disabilitas.

Program kemah inklusif YRCM menjadi bentuk nyata pemenuhan hak-hak tersebut.

Bangun Kemandirian dan Sensitivitas Sosial

Program kemah dilaksanakan selama 3 hari 2 malam dan mengajak anak-anak belajar serta hidup di alam terbuka. Kegiatan ini tidak hanya menyasar siswa binaan YRCM, tetapi juga melibatkan para relawan yang ingin belajar mengenai pendidikan inklusi dan aksesibilitas.

Menurut Dinda, salah satu pengurus YRCM, program ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri anak dalam menghadapi situasi baru.

“Kemah ini untuk melatih kemandirian mereka, sosialisasinya, hingga stimulus sensor. Program ini membantu mereka berkembang di tempat baru dengan belajar menyesuaikan diri,” jelasnya.

Rangkaian Edukasi di Alam Terbuka

Selama tiga hari, peserta menerima berbagai materi edukasi:

Belajar mendirikan tenda

Pelatihan kepemimpinan

Edukasi seksual anak & remaja

Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)

Edukasi bahasa isyarat & aksesibilitas

Pada hari terakhir, anak-anak mengikuti agenda “Goes to School”, yaitu memberikan edukasi seksual dan bahasa isyarat langsung kepada siswa SD di sekitar lokasi perkemahan. Yang menarik, materi tersebut dibawakan langsung oleh anak-anak disabilitas binaan YRCM, sebagai bentuk pemberdayaan dan penguatan kapasitas diri.

Program kemudian ditutup dengan kegiatan penjelajahan alam di sungai, sebagai sarana relaksasi dan penguatan ikatan sosial antar peserta.

Harapan YRCM

Dinda berharap program ini menjadi bekal penting bagi anak-anak disabilitas sehingga mampu berbaur di lingkungan manapun.

“Harapannya, anak-anak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Pengalaman ini membuat mereka sadar bahwa mereka mampu, sehingga tidak takut lagi menghadapi suasana berbeda,” ujarnya. (PU)