DAG : Hoax Bisa Picu Aksi Radikalisme dan Terorisme

11
Ilustrasi.

Jakarta, Lintangnews.com | Ketua Umum Perkumpulan Demi Anak Generasi (DAG) Edo Panjaitan menyatakan sikap menentang penyebaran berita palsu (kebohongan) atau hoax. Pasalnya, hoax dapat memicu munculnya aksi radikalisme dan terorisme.

“Penyebaran berita hoax itu menyasar semua kalangan dan usia dengan lintas wilayah, bahkan mancanegara. Ini bisa menumbuhkan bibit radikalisme yang mengancam keutuhan suatu bangsa dan negara,” ujar Edo Panjaitan saat dikonfirmasi via telepon seluler, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Dia mengatakan, pada tahap awal DAG melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh mengenai keadaan yang muncul akibat berita hoax bisa menghasilkan aksi anarkisme dan radikalisme di beberapa daerah. Dan ini akan menjadi stimulasi munculnya aksi radikalisme di kemudian hari.

Analisa sementara ini, sergahnya kemudian, masih ada tangan tersembunyi yang masuk dalam keterlibatan aksi radikalisme di Indonesia sampai hari ini.

“Jika tidak segera diungkap sikap seperti ini dikhawatirkan sekali akan menjadi stimulus bagi kelompok pelaku anarkisme dan radikalisme terhadap masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi maraknya penyebaran berita hoax ini, dia berpaling kepada masyarakat agar membiasakan diri untuk menerima atau mendengar informasi secara tidak gegabah, melainkan harus melakukan kroscek kebenarannya terlebih dahulu.

”Bisa dilakukan pendekatan informasinya melalui tokoh-tokoh masyarakat, publik figur, tokoh etnis adat setempat, tokoh agama, karena suara para tokoh itu biasanya lebih didengarkan oleh masyakarat,´cetusnya.

Indonesia Darurat Hoax

Sementara itu, Ketua DPP DAG Bidang Kontra Radikalisme dan Terorisme, Ken Setiawan mengatakan, kondisi Indonesia saat ini sudah masuk zona darurat hoax. Pasalnya, berita hoax sudah merajalela sehingga masyarakat banyak yang tertipu, dan mempercayainya.

“Banyak yang awalnya hanya menjadi korban hoax, tapi akhirnya menjadi pelaku hoaks karena turut menyebarkan informasi yang bohong atau palsu,” ujarnya.

Keadaan ini, menurut dia, bisa memicu kelompok teroris untuk beraksi. “Mereka (teroris) itu seperti sel-sel tidur yang punya keterampilan, apabila beraksi satu orang saja maka dipastikan Indonesia bakal heboh,” katanya.

Menurut Ken, melalui hoax akan lebih mudah menciptakan suatu kondisi yang diinginkan, dan cara itu bisa lebih efektif mempengarui sebuah opini publik.

Di lain sisi, kata dia, berita hoax yang diulang-ulang juga seolah akan menjadi sebuah kebenaran. Maka itu, para pemecah belah bangsa ini akan terus menerus menyebarkan hoax untuk membuat opini terbalik bahwa yang benar itu salah dan yang salah itu benar.

“Sebuah tantangan cukup berat saat ini, karena di era milenial dan media sosial banyak orang tidak berburu mencari fakta dan kebenaran, sehingga kebohongan yang diulang-ulang seolah menjadi sebuah kebenaran,” ujarnya.

Bahkan, menurut dia, matematika yang merupakan ilmu pasti itu sudah tidak pasti lagi. Ia menyontohkan, berapa orang yang datang ke aksi atas nama agama beberapa waktu yang lalu, itu matematika gagal.

Bagaimana sebuah kelompok secara masif mempengaruhi masyarakat dengan hitung-hitungan jumlah yang selama ini tidak ada yang pernah menghitungnya.

Karena itu, sergahnya kemudian, seseorang atau kelompok orang sudah tidak menemui fakta, kemudian bagaimana mereka mempengaruhi orang dengan persoalan-persoalan yang belum pasti tersebut.

“Penyebaran hoax melalui media sosial menggiring opini publik, sehingga mempolarisasi masyarakat dengan informasi palsu yang bersifat tendensius dengan sentimen terhadap SARA,” kata dia.

Apabila hal ini dibiarkan, maka Indonesia semakin dekat dengan era post truth dimana fakta-fakta objektif sudah tidak mampu mempengaruhi opini masyarakat dan dianggap tidak relevan.

“Masyarakat akhirnya bersandar pada keyakinan pribadi dan emosi. Yang artinya masyarakat memilih untuk menolak atau menerima kebenaran bukan berdasarkan fakta obkektif tadi akan tetapi berdasarkan keyakinan dan seleranya saja,” ujarnya.

Pemerintah membutuhkan dukungan dari segenap komponen masyarakat untuk menyaring berbagai berita dan informasi yang menyesatkan. Tak hanya bagi diri sendiri tetapi juga kepada keluarga, kerabat bahkan masyarakat luas di sekitar kita.

“Hal ini dikarenakan sebuah informasi yang keliru bisa sangat merugikan bahkan berbahaya, karena dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” tutup mantan aktivis NII (Negara Islam Indonesia) itu. (rel)