Diduga Ancam Adik Ipar, Pengusaha Distro di Balimbingan Dipolisikan

DS saat di Polsek Tanah Jawa.

Simalungun, Lintangnews.com | Seorang pria inisial DN yang tinggal di Jalan Besar Tanah Jawa, Nagori Balimbingan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, bakal mendapatkan surat panggilan dari penyidik unit Reskrim Polsek Tanah Jawa.

Pengusaha distro (pakaian) dan penjual juice itu dipolisikan adik iparnya yang sehari-hari menjual kartu paket inisial DS warga Nagori Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Sejauh ini, penyelidikan masih terus dilakukan penyidik unit Reskrim Polsek Tanah Jawa dengan meminta keterangan dari sejumlah saksi atas laporan DS (pelapor).

“Kalau laporannya sudah diterima. Tapi, penyidik masih meminta keterangan dari saksi-saksi,” kata Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty Panjaitan melalui Kapolsekta Tanah Jawa, Kompol H Panggabean, Kamis (11/4/2019).

DS ditemui di Polsek Tanah Jawa usai memberikan keterangan kepada penyidik, membenarkan telah melaporkan abang iparnya, DN. “Dia (Terlapor) abang ipar saya,” ujarnya.

Perempuan berkulit hitam manis dan berambut panjang itu menyampaikan, sekira sebulan lalu tepatnya Sabtu 9 Maret 2019, DN mengancam dan nyaris mencium bibirnya.

“Diancamnya dan mau diciumnya saya. Dibilangnya, dari pada orang ‘merusak’ saya, lebih bagus dia. Mana mau saya. Dia kan suami kakak saya,” ucap DS menirukan ucapan DN.

Diketahui, peristiwa itu terjadi pada malam hari di tepi jalan tak jauh dari Simpang Tangsi tepatnya tempat DS berjualan kartu paket. “Malam kejadiannya. Dan malam itu, dia sudah bau tuak,” kata DS.

Malam itu, DS sedang mengangkati peralatan jualan yang digunakannya karena hendak tutup. Tiba-tiba, DN datang dan melontarkan beragam bahasa hingga nyaris mencium DS.

“Saya kan kerja. Dia datang ke tempat kerja saya. Di situlah dia memegang dan mau dicium bibir saya. Kemudian, saya langsung tancap gas sepeda motor. Lalu ada sepupu mencari saya ke rumah,” jelas DS sembari menyampaikan rumah DN tak jauh dari depan SMP Negeri 2 Tanah Jawa. (zai)