Diskusi Mingguan GMKI Bahas Hegemoni Kapitalisme di Siantar

Diskusi mingguan yang dilaksanakan GMKI Siantar-Simalungun.

Siantar, Lintangnews.com | Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Siantar-Simalungun melakukan diskusi dengan tema ‘Relasi Tata Kota dengan Hegemoni Kapitalisme di Siantar,’ Sabtu (22/6/2019) malam.

Sekbid Akspel GMKI Siantar-Simalungun juga moderator, Mayeni Saragih menuturkan, kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan terkait bagaimana hubungan dari tindakan-tindakan dari pihak pemilik modal (kapitalisme) terhadap tata kota, dalam hal ini fokus kepada Siantar.

Sementara itu Ketua Cabang GMKI Siantar-Simalungun, May Luther Dewanto Sinaga mengatakan. pihaknya akan rutin melakukan diskusi demi menambah wawasan setiap kader GMKI.

“Ini agar terwujudnya kader GMKI yang memiliki profesionalitas, spiritualitas, dan integritas. Diskusi ini akan berlanjut dengan tema yang berbeda,” sebut May Luther.

Adapun yang menjadi pemantik diskusi adalah Kristian Silitonga (Pengamat Politik) dan Fernando Sihotang (Dosen FISIP USU).

Pemaparan pertama diawali dari Kristian Silitonga menjelaskan makna kapitalisme hingga perkembangan kapitalisme di Indonesia, khususnya di Siantar. “Kapitalisme adalah sebuah sistem, di mana sistem politik dan sosial ditentukan oleh modal yang mendominasi semua kegiatan,” ujar Kristian.

Sementara hegemoni adalah suatu kondisi yang memaksa. Kristian juga menjelaskan bagaimana tata ruang yang dipengaruhi oleh kapitalisme tersebut.

Sementara itu, Fernando Sihotang menjelaskan asal mulanya kapitalisme itu muncul. Dia juga mengatakan, mekanisme kapitalisme ini menghegemoni politik. “Jadi perlu adanya sebuah kebijakan dari pemerintah selaku penanggungjawab tata kota dalam melakukan pembangunan,” sebutnya.

Fernando juga menjelaskan tindakan hegemoni dari pihak kapitalisme hingga mengarah kepada pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), karena berkaitan dengan kebebasan (freedom).

Sedangkan Fawer Full Fander Sihite menjelaskan bagaimana hubungan tata kota dengan kapitalisme (pemilik modal). Fawer Full juga mengatakan, selaku mahasiswa harus tetap memiliki kajian terhadap setiap kebijakan pemerintah dan mempertimbangkan sisi positif dan negative dari setiap kebijakan tersebut demi terwujudnya suatu pemerintahan yang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

May Luther juga memberikan beberapa pandangan terkait tema diskusi itu. Dia mengatakan, kapitalisme tidak hanya sebatas pemahaman filsafat (isme) melainkan sudah menjadi sebuah ideologi yang berkembang di dunia pada masa kini.

“Siantar salah satu kota menganut sistem kapitalisme yang terlihat dari pengambilan keputusan pemerintah menjadikan pembangunan fisik (gedung-gedung, pasar modern, dan lain sebagainya) sebagai acuan perkembangan dan kemajuan sebuah kota,” sebutnya.

Menurut pandangan May Luther, perkembangan dan kemajuan sebuah kota memang didukung pembangunan yang terjadi. Akan tetapi yang menjadi hal yang terpenting dari kemajuan sebuah kota adalah kesejahteraan bagi masyarakat umum.

Diskusi yang berlangsung di Student Centre (SC) GMKI Siantar-Simalungun, Jalan Asahan, Komplek Griya, Kabupaten Simalungun itu diwarnai beberapa tanggapan seperti David Marpaung menjelaskan tentang hegemoni yang terjadi di Indonesia. Dia juga mengatakan, hegemoni yang sungguh ironi adalah hegemoni militer, Karena David menganggap bahwa militer memiliki pengaruh yang besar di negara ini.

Diskusi ini diakhiri dengan closing statement dari setiap pemantik diskusi yang pada intinya, bahwa setiap kebijakan pemerintah tidak terlepas dari pemilik modal, karena membutuhkan dana dari pembangunan-pembangunan yang dilakukan. Namun pemerintah tidak boleh melupakan tujuan penataan kota untuk mensejahterakan masyarakat secara umum sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang.

Pemerintah juga harus mengutamakan sistem perekonomian berkeadilan yang tidak hanya berpihak pada beberapa individu, melainkan kebijakan-kebijakannya berpihak pada masyarakat secara umum. (rel)