Lahirnya SK Bupati Simalungun Buat  992 Orang Guru Menangis

18
Suasana diskusi yang diselenggarakan Mata Publik.

Siantar, Lintangnews.com | Bupati Simalungun, JR Saragih diminta untuk mengobati ‘luka’ ratusan guru.

Ini akibat Surat Keputusan (SK) Bupati dengan keputusan pemberhentian sementara jabatan fungsional guru yang belum memiliki ijazah Sarjana (Strata Satu).

Permintaan itu menjadi salah satu poin dari hasil diskusi yang dilaksanakan Mata Publik, dengan sejumlah pembicara dengan dimoderatori Anugerah Nasution, mengamati secara serius dampak atas polemik yang ditimbulkan SK Bupati terhadap 992 guru di lingkungan Pemkab Simalungun.

Diskusi terbuka ini dihadiri kalangan akadamisi dan mahasiswa bertempat di Patarias Cafe, Jalan Sangnualah, Kota Siantar, Rabu (10/7/2019), sore.

Poin  penting dari hasil diskusi yang diwarnai dengan pertanyaan dari audiens itu, meminta Bupati JR Saragih agar mencari solusi yang terbaik untuk mengangkat martabat para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

“Bupati harus memberikan solusi. Bupati harus mengobati luka para Guru yang telah membangun Kabupaten Simalungun,” kata salah seorang narasumber, Bongsu Pakpahan.

Anggiat Sinurat Akademisi dari Universitas Simalungun (USI) memaparkan, SK Bupati harus ditinjau kembali. Ia menuturkan, kondisi ke 992 guru itu saat ini begitu terpukul akibat terdampak SK Bupati tersebut.

Anggiat bercerita, dirinya mendengar keluhan itu langsung dari seorang anak guru yang mengeluhkan keadaan ayahnya yang terdampak atas kebijakan Bupati tersebut.

“Guru-guru itu mengabdi lebih dari 50 tahun lebih. Tunjangan guru berhenti, sertifikasi guru berhenti, lain lagi moralnya. Pasti, guru yang diberhentikan itu, hatinya menangis dan terkoyak-koyak,” ungkapnya.

Sebagai seseorang yang menyandang profesi guru, Hasiholan Manurung, yang dihadirkan sebagai narasumber juga mengakui, nasib guru sebagai pendidik putera puteri bangsa ini pasti merasakan hal demikian.

Guru di salah satu sekolah SMP Negeri di Kota Siantar ini mengatakan, guru berperan mengantarkan anak-anak bangsa ini menjadi pemimpin pemimpin bangsa.

“Kalau kamu menjadi koruptor ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), maka guru mu akan menangis. Jika guru mu kau sakiti, maka guru mu akan berseru kepada Tuhan nya, memeras air susunya, seperti Ibunya Sampuraga, camkan itu,” tutupnya. (Elisbet)