Pasien Positif Covid-19 di RSUD Djasamen Saragih Minta Pelayanan Maksimal

Salah satu pasien positif Covid-19 di RSUD Djasamen Saragih (screenshoot).

Siantar, Lintangnews.com | Salah seorang pasien positif Covid-19 (Virus Corona) di Kota Siantar menyampaikan keluhannya lantaran tak ditangani maksimal oleh tenaga medis di RSUD Djasamen Saragih.

Pasalnya sejak awal diisolasi hingga dilaporkan positif, ia mengaku tak pernah didatangi dokter.

Pasien yang belakangan bernama Abdul Wahid K ini menceritakan kronologi mengapa dirinya positif Covid-19. Awalnya warga Gang Demak, Jalan Singosari, Kelurahan Martoba, Kecamatan Siantar Utara ini reaktif Covid-19 pada Senin (4/5/2020) lalu.

“Saya reaktif Covid-19, setelah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melakukan rapid test ke kawasan tempat tinggal saya, akibat satu tetangga kami positif Covid-19 sebelum Ramadan lalu,” ujar pria yang juga Kepala Lingkungan (Kepling) itu, Jumat (22/5/2020).

Wahid menyampaikan, memang seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) positif sebelumnya tinggal berjarak 6 unit rumah darinya. Tetapi, dia tak pernah menduga bila dirinya terpapar dari tetangganya itu.

Pria yang sehari-hari berdagang sarapan mie balap ini justru mengaku kala itu dirinya sedang dalam kondisi lemah, lantaran 3 hari sebelumnya, orang tua meninggal dunia.

“Senin sore itu, saya masuk ruang isolasi di RSUD Djasamen Saragih. Besoknya saya di swab tes. Katanya, hasilnya baru keluar 14 hari,” kata Wahid.

Selama itu pula, Wahid mengaku seperti tak diperhatikan. Ia tak mendapatkan perawatan medis dan tak pernah ditanya dan diobati perihal penyakit bawaan sebelum dinyatakan reaktif.

Wahid menyampaikan, sejumlah perawat mengatakan penanganan terhadap dirinya sebatas diawasi, diberi gizi dan berjemur. Padahal kata Wahid, dirinya memiliki penyakit asam lambung dan diabetes yang barangkali memicu Covid-19 menginfeksi dirinya.

“Kalau penyakit saya gak diobati, ya setiap swab tes lagi pasti positif lagi. Namanya gak diobati. Begini-begini saja sampai saya rasa waktu habis,” ujar Wahid.

Selama di Rumah Sakit (RS), Wahid mengaku, mendapat gizi yang cukup. Namun tak ada WiFi untuk mereka melepas penat, sehingga terpaksa membeli kuota internet sendiri. Ada pun rutinitas sehari-hari, setiap siang mereka menyempatkan waktu berjemur.

“Begini lah. Setiap hari semakin baik. Baru tadi ada perawat yang datang,” ujarnya.

Wahid meminta penanganan maksimal, karena dia tak melihat koordinasi yang baik antara RSUP Adam Malik dan RSUD Djasamen Saragih perihal rekam medis dan data data dirinya sebagai PDP.

“Saya ngeluh gak ditanya soal penyakit bawaan. Gak pernah dikunjungi dokter dan perawat. Cuma dikasih vitamin. Penyakit bawaan saya gak pernah dirawat. Katanya memang cuma diawasi. Harusnya setelah divonis, saya dikasih perawatan. Dokter gak pernah datang, cuma dirontgen saja.Aslinya saya punya penyakit gula. Harusnya mereka professional dan tau penyakit saya yang lain. Jadi kalau seperti ini, positif terus karena penyakit itu,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Pemko Siantar yang juga merangkap Pelaksana Tugas (Plt) Dirut RSUD Djasamen Saragih, Ronal Saragih tampak kesal dengan pernyataan PDP tersebut. Ia mengklaim, PDP itu sudah ditangani dokter yang bertugas.

“Sudah lah, baru tadi dokternya jumpai saya, jika telah memeriksa PDP itu,” tutupnya. (Elisbet)