Siantar, Lintangnews.com | Menjelang pelaksanaan Sinode Godang Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ke 64 direncanakan bulan Oktober 2020 mendatang di Sipoholon Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).
Ada 2 orang kandidat yang muncul sebagai Calon Ephorus untuk periode 2020-2024 yakni, Pdt Robinson Butarbutar dan Pdt Martongo Sitinjak.
Sementara, sampai saat ini tengah berlangsung sinode-sinode Distrik untuk menentukan utusan sinode, serta Calon Praeses sesuai kuota yang telah ditentukan.
Ditemui di kediamannya di Kota Siantar, Rabu (26/8/2020), mantan Praeses HKBP Distrik V Sumatera Timur, Pdt Tendens Simanjuntak memberikan harapannya terhadap kandidat Ephorus kedepan.
Harapannya Calon Ephorus harus memiliki karakter yang tegas, pemberani, organisatoris serta menguasai dinamika internal HKBP. Kedua kandidat yang muncul saat ini, menurutnya sama-sama orang baik dan sama-sama memiliki kualifikasi pendidikan teologi tingkat doktoral (S-3).
Namun pendeta yang pernah menjabat sebagai Kepala Biro Personalia di Kantor Pusat HKBP ini memberikan catatan, bahwa orang yang pintar dan mumpuni secara akademik, belum tentu piawai dalam memimpin organisasi sebesar HKBP. Selain wilayah pelayanannya tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri, dinamikanya juga sangat tinggi, termasuk di tingkatan pelayan penuh waktu.
“Bagaimana mungkin seorang Ephorus mampu membuat terobosan kebijakan strategis dan direspon jemaat, jika kurang mengenal internal HKBP?,” tegasnya
Karena itu lah, dirinya sejak lama menyarankan agar Pdt Robinson sebaiknya menyiapkan diri menjadi Sekjen HKBP lebih dulu, jika ingin menjadi Ephorus agar selama 1 periode bisa mengenal lebih jauh internal HKBP.
“Namun beliau lebih ingin langsung jadi Ephorus pada Sinode tahun 2016 lalu. Dasar saya mengatakan demikian, karena beliau cukup lama di luar negeri. Sehingga dengan menjadi Sekjen lebih dulu, tentu beliau semakin paham dan mengenal dinamika jemaat HKBP. Sebab Ephorus bukan hanya mengurus Pendeta atau pelayan penuh waktu saja tetapi lebih luas adalah mengurus jutaan jemaat,” katanya.
Mantan Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota Siantar ini lebih jauh menjelaskan, Pdt Robinson tidak pernah menjadi pimpinan jemaat HKBP dan hanya selama Pendeta praktek saja berjemaat. Kalau pun saat ini dipercaya menjadi Ketua Rapat Pendeta (KRP) lembaga ini tak bersentuhan dengan urusan jemaat.
“Karena itu lah, saya lebih melihat potensi dan talenta Pdt Robinson sebagai akademisi dan theolog di Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP akan lebih berhasil dalam membenahi sumber daya pelayan-pelayan HKBP. Kalau soal kemampun akademik dan mengajar saya tentu tak meragukannya, bahkan sangat mengapresiasi. Apalagi saya kenal betul beliau sangat kutu buku sejak mahasiswa dan terbukti berhasil meningkatkan kualifikasi akademiknya di luar negeri,” ujarnya.
Pdt Tendens juga mencontohkan, Pdt AA Sitompul yang sangat mumpuni di bidangnya sebagai akademisi maupun theolog dan sampai purna tugas tak pernah dipilih menjadi Ephorus.
“Jadi hemat saya, demikian pula dengan Pdt Robinson yang sangat tepat jika mengabdikan ilmunya di STT HKBP dan menjadi theolog, demi perbaikan pelayan-pelayan HKBP ke depan. Terus terang, pembenahan calon-calon pendeta harus dibenahi sejak di lembaga akademik (parsamean), sehingga pelayanan di HKBP kedepan semakin kompeten agar konflik-konflik yang terjadi selama ini bisa dieliminir,” tandasnya.
Ephorus HKBP menurutnya, juga harus mempunyai keberanian untuk melakukan terobosan dan pembaruan, serta tegas untuk membuat kebijakan-kebijakan strategis. Tidak cukup hanya dengan rendah hati dan terlalu banyak pertimbangan. Apalagi melihat aras pelayanan HKBP sangat luas, membutuhkan pemimpin yang mampu bertindak cepat, tepat, tegas dan terukur. Contoh sederhana, banyak persoalan di resort-resort karena masalah SK Penempatan, yang akhirnya melibatkan konflik jemaat.
“Kedepan, kasus-kasus ini tidak boleh terjadi, dan di sinilah dibutuhkan ketegasan seorang Ephorus yang paham betul kondisi HKBP, sehingga kebijakan yang dibuat dapat terlaksana sesuai rencana,” harapnya mengakhiri perbincangan. (Sen)


