Pembakar Ibu Tiri di Asahan Jalani Sidang Dakwaan

Terdakwa Jumasri duduk di kursi pesakitan dan mendengarkan surat dakwaan yang dibacakan JPU.

Asahan, Lintangnews.com | Pembakaran ibu tiri, Jumasri alias Plotot di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pulau Bandring, Kabupaten Asahan menjalani proses persidang dengan angenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, Senin (4/11/2019).

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Nelly Andriani beranggota Ahmad Adib dan Boy Aswin, dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU) Juwita Sitorus dan pengacara terdakwa, Permana Wira Hadibrata.

Juwita dalam dakwannya menuturkan, terdakwa Jumasri, pada Selasa 25 Juni 2019 sekira pukul 08.00 WIB bertempat di Jalan Mawar Dusun III Desa Sidomulyo, Kecamatan Pulo Bandring dengan sengaja dan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara membakar ibu tirinya, Waginem.

Sebelumnya terdakwa meminta izin kepada saksi Parman (orang tua terdakwa) mengambil arus listrik dari rumah mereka untuk menyalakan lampu di kamarnya. Selama ini terdakwa mengambil arus listrik dari rumah adiknya Juli. Saat itu Parman mengijinkannya. Lalu terdakwa mendengar Parman menceritakan perihal dirinya meminta arus listrik kepada korban Waginem.

Mendengar hal itu, korban marah-marah kepada Parman. Ini membuat Parman menemui korban dan mengatakan agar jangan marah-marah, karena takut dirinya silap. Ternyata korban menjawab ‘kenapa rupanya, mau kau bunuh aku, bunuhlah’, kemudian terdakwa pergi meninggalkan Waginem.

Ternyata terdakwa mencari jerigen dan membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite sebesar Rp10.000 di SPBU Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di Kelurahan Bunut, Kecamatan Pulo Bandring.

Karena merasa BBM yang dibeli tidak cukup untuk membakar ibu tirinya, akhirnya terdakwa mendatangi warung milik saksi Parjan. Dirinya kembali membeli BBM seharga Rp 10.000 dengan cara berhutang.

Selanjutnya terdakwa kembali ke rumah dan berniat untuk membunuh ibu tirinya, namun sudah hilang. Terdakwa menyimpan BBM itu di dalam kamar, lalu keluar rumah mengelilingi kampung menggunakan sepeda motor merk Honda Vario milik Juliani (selaku adik terdakwa) dengan maksud untuk keliling kampung.

Dan tidak berapa lama, terdakwa kembali ke rumahnya dengan maksud untuk pergi ke gudang tempatnya bekerja. Ketika keluar, terdakwa memutar dari belakang rumah orang tua nya, dan mencari Parman mempertanyakan apakah diperbolehkan meminta arus listrik untuk menyalakan lampu di kamarnya.

Lalu terdakwa menanyakan kepada ibu tirinya tentang keberadaan Parman. Ternyata korban kembali marah-marah pada terdakwa, sembari memaki-maki ayahnya, Parman.

Terdakwa sempat menasehati korban atas tindakannya itu. Namun korban tak terima dan menggertak terdakwa untuk membunuhnya. Akhirnya terdakwa menyiramkan BBM ke bagian wajah korban sebanyak 2 kali.

Berlanjut mengambil sebatang kayu berukuran kurang lebih 1 meter yang ujungnya telah diikat dengan kain di sebelah ibu tirinya yang sedang duduk. Kemudian mengambil mancis warna biru milik terdakwa dari kantong celana sebelah kanan dan membakar, selanjutnya melemparkan ke arah korban. Seketika itu korban langsung terbakar dan meminta tolong, sementara terdakwa langsung melarikan diri.

“Akibat perbuatan terdakwa, sesuai dengan visum et repertum No. 8506/IV/UPM/VII/2019 tanggal 01 Juli 2019 di RSUD Djasamen Saragih Kota Siantar, saksi korban Waginem mengalami luka bakar dengan derajat berat yang disebabkan api. Akibat perbuatannya sebagai mana diatur dan diancam pidana pasal 338 dan 340,” ungkap JPU, Juwita. (Heru)