Proyek Perbaikan Irigasi UPT PSDA Bah Bolon di Siantar Diduga Asal Jadi

Tampak bagian bawah pasangan batu padas berlimut dan diduga pasangan lama.

Siantar, Lintangnews.com | Proyek perbaikan saluran irigasi milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Bah Bolon di aliran sungai di Jalan Pdt Wismar Saragih, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar diduga asal jadi.

Pasalnya, selain dikerjakan dengan terlebih dulu membersihkan sedimen, juga terindikasi menggunakan material batu padas bekas dan tanpa pondasi baru.

Bahkan, pasangan batu padas pecah lama yang sudah mengalami keretakan di sejumlah titik justru tak dibongkar. Melainkan dipakai dan mirip tambal sulam.

Ini diperparah lagi, proyek yang dikerjakan CV Agata Inti Mulia itu menurut sejumlah pekerja kepada wartawan menyatakan, tidak mengetahui siapa oknum pelaksananya.

“Enggak tau kami bang. Hanya saja, penanggungjawab pekerjaan ini adalah bermarga Tambunan,” ucap salah seorang pekerja singkat, Selasa (16/10/2018).

Sementara diketahui, banyak masyarakat sekitar daerah irigasi itu yang membutuhkan adanya perbaikan.

Namun karena terindikasi asal jadi, warga pun berharap dengan pemberitaan adanya dugaan penyimpangan teknis pada proyek itu, pihak dinas terkait segera meninjau ulang realisasi pekerjaan.

Plang proyek tanpa papan informasi kegiatan.

“Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari air irigasi itu. Sangat disayangkan, bangunan tidak dikerjakan dengan baik,” imbuh salah seorang warga, Iloed.

Dia menuturkan, sejauh ini warga sepanjang aliran irigasi memanfaatkan aliran air untuk mengaliri kolam budidaya ikan tawar. “Sepanjang saluran irigasi ini banyak peternak ikan. Tapi pembangunan ini asal jadi. Kami berharap agar instansi terkait meninjau ulang kegiatan itu,” paparnya.

Pantauan di lokasi, tertera pada plang proyek, dijelaskan pengerjaan bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara, dengan pagu dana unit price.

Selain tidak tertera alamat maupun nama pimpinan perusahaan, pelaksana juga tidak memajangkan papan informasi kegiatan.  Bahkan tanpa pondok kerja sebagai tempat bahan baku proyek dan penyimpanan alat-alat kerja, sehiingga layak dinilai adanya konspirasi mengaut keuntungan.

Pengawas kegiatan, marga Batubara yang coba didatangi ke kantornya di Jalan Asahan Km 3,5 Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, tidak berada di tempat.

Menurut sejumlah pegawai, pengawas kegiatan itu pria bertubuh kurus ceking dan lebih doyan memancing, sehingga mengabaikan tupoksinya.

“Rajinnya dia (Batubara) ke lapangan. Hanya saja dia lebih sering mancing daripada mengawasi kegiatan. Karena dia itu juga sebagai sub kontrak,” ucap pegawai dengan tak bersahabat. (zai)